Jakarta, infobreakingnews - Serikat
Pekerja (SP) IPC Group mendesak Menteri Negara (Meneg) BUMN untuk
memberhentikan Direktur Utama (Dirut) IPC. Bahkan tidak tanggung-tanggung,
mereka menyurati Presiden RI sebagai keseriusannya agar Richard Joost (RJ) Lino
segera digantikan.
Menanggapi pernyataan itu, Lino mengatakan bahwa SP baru
selalu ingin menunjukan identitasnya.
Menurutnya, dulu ketika dirinya baru menjabat sebagai Dirut, SP meminta peningkatan
kesejahteraan pegawai. Dan hasilnya adalah sekarang ini pegawai IPC sudah
memiliki kesejahteraan yang lebih dari cukup.
“Pegawai IPC gajinya sudah setinggi langit, untuk lulusan
sarjana yang baru masuk saja gaji perbulannya sebesar Rp15 juta. Jadi
kesejahteraan bukan menjadi isu lagi. Bahkan untuk para pensiunan dulu PMT 30
di kali gaji pokok, sekarang sudah menjadi 60 kali gaji pokok dan tunjangan
plus-plus,” kata Lino saat berbuka puasa di rumah pribadinya di Pejaten,
bersama dengan wartawan, Rabu (24/7/2013) malam.
“Apa yang SP minta sudah saya penuhi. Bahkan
kesejahteraan itu melebihi dari angka rata-rata. Sekarang dengan kesejahteraan
yang sudah diberikan, feedbacknya adalah SP kita minta meningkatkan produktifitas agar pendapatan
perusahaan juga bisa lebih besar,” ujarnya.
Dia
mengatakan, kalau pendapatan perusahaan lebih besar, otomatis pendapatan
pegawai akan semakin besar. Kalau sudah begitu, sudah tidak pantas lagi mencari
uang kecil dari pungli-pungli karena gaji sudah besar, tegasnya didampingi
Direktur Personalia dan Umum, Cipto Pramono dan Sekertaris Perusahaan, Yan
Budi.
“Di SP itu banyak orang-orang yang sudah tidak terpakai, dan
menanggapi statement mereka di salah satu media, pimpinan tidak mau pusing menanggapinya,”
ungkapnya
Dalam materi di media tersebut terbagi menjadi dua
bagian. Pertama adalah menyerang pribadinya dan perusahaan. Untuk bagian yang
menyerang pribadinya akan dikatakan akan dilawan, karena menurutnya ada
argumentasi untuk itu.
“Saya sudah melakukan panggilan telpon sebanyak tiga kali
untuk segera dikirimkan tagihan Rumah Sakit, kalau masih belum dikirim itu
salah siapa? Dan itu hanya Rp 95 juta, bagi saya jumlah segitu is nothing.
Untuk pinjaman kakak Istri saya, itu sudah dicicil sampai dengan Rp 60 juta.
Tetapi dengan berjalannya waktu menyicil, yang bersangkutan meninggal. Kalau
orangnya tidak meninggal, tanggungan tersebut pasti dibayar,” tambahnya.
Lino menegaskan, project yang pimpin adalah project
triliunan sehingga urusannya banyak dan yang dikhawatirnannya hanyalah
pergerakan perusahaan.
“Satu hal yang perlu dimengerti oleh SP. Mereka tidak
boleh ikut campur mengenai kebijakan manajemen. Karena itu bukanlah jatah dari
SP tetapi itu merupakan wewenang pemegang saham. Kalau saya lalai dalam pekerjaan,
maka pemegang saham berhak untuk memberhentikan dan menggantikan saya,” pungkasnya.(Thomson Gultom)



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !