![]() |
| Penyidik Bareskrim Perlihatkan Ginjal Yang Dijual |
Jakarta, infobreakingnews - Peristiwa yang sangat memprihatinkan ini menjadi renungan bathin terdalam, yang punya ginjal hanya mendapatkan uang sedikit, sementara yang menjadi calonya justru mendapat banyak uang karena bisa langsung bertransaksi dengan orangt kaya yang lagi sakit dan membutuhkan ginjal segar untuk memperpanjang hidupnya.
Kasus penjualan ginjal ini mulai diungkap Bareskrim Polri , dimana tiga rumah sakit di Jakarta terlibat sindikat penjualan organ manusia dalam bentuk ginjal.
Rumah sakit C,AW dan C yang melakukan operasi ginjal itu kini sedang diperiksa secara instensif oleh penyidik Polri.
”Sementara, dari pemeriksaan ini, proses operasi pengangkatan dan pencangkokan ginjal itu tidak sesuai ketentuan, tidak sesuai SOP. Penyidik akan mendalami kembali hal tersebut. RS-nya di Jakarta ada C, AW, dan C,” kata Kabag Anev Bareskrim Kombes Hadi Ramdani di Mabes Polri Kamis (4/2).
Perwira menengah itu juga mengatakan jika dalam kasus ini penyidik sudah menemukan mereka yang membeli ginjal itu. Menurut Hadi mereka bukan berasal dari kalangan pejabat dan profesi mereka bermacam-macam.
”Untuk pembeli tidak dikenakan pidana. Mereka hanya butuh kesehatan, sehingga begitu dia dapat ginjal, dia bayar, sesuai prosedur dan dia melakukan juga sesuai ketentuan jadi tidak ada masalah. Sementara ini jual-beli ini hanya ginjal,” lanjutnya.
Seperti diberitakan ada tiga tersangka dalam kasus ini dan 15 korban yang berhasil diketahui sejauh ini. Tiga tersangka itu adalah AG, DD, dan HR alias HS.
Mereka mempunyai peran masing-masing yaitu AG dan DD—yang juga sebenarnya korban pengangkatan ginjal—mencari korban sedangkan HS menjadi penghubung dengan pihak rumah sakit.
Modusnya begitu HS mendapat order ginjal dari pihak RS, dia lalu mengorder ke AG dan DD untuk mencari korban. Peristiwa ini sudah sejak Januari 2014- Desember 2015 lalu.
Setelah mendapat korban yang mau dibeli ginjalnya, korban lalu dibawa ke sebuah klinik di Garut untuk dicek, lalu setelah itu dibawa ke laboratorium di Bandung, dan selanjutnya ke RS di Jakarta.
HS, korban, dan penerima ginjal lalu bertemu dokter ahli ginjal di RS Jakarta dengan membawa hasil lab di Bandung itu. Dokter ahli ginjal lalu memberikan surat pengantar ke RS di Jakarta untuk dilakukan cross match atau pencocokan darah.
Di Jakarta korban dilakukan CT scan ginjal, memeriksa jantung, paru, dan psikiater. Setelah dinyatakan memenuhi syarat maka dokter kemudian menentukan tanggal pelaksanaan operasi.
Harus ada persetujuan dari keluarga dan surat pernyataan korban yang semuanya dibuat HS untuk dilakukan pengangkatan ginjal. Harga ginjal dibanderol Rp 225-300 juta, ini di luar biaya operasi Rp 100 juta.
Dari uang ratusan juta itu korban hanya mendapat bagian antara Rp 75-90 juta. Uang Itupun akhirnya habis untuk mengobati kesehatan korban yang menurun setelah ginjalnya diangkat, sementara para calo nya yang menikmati lebih besar uang penjualan ginjal sebesar rata rata Rp 300 juta persatu ginjal.
Sampai berita ini ditayangkan, belum diketahui apakah pihak Kemenkes akan mencabut ijinj ketiga RS tersebut atau hanya menghukum sipemilik RS nya saja. *** Candra Wibawanti.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !