Headlines News :
Home » » Berbagai Penyakit dan Bencana Alam Juga Rusak Kualitas Moral Karena Tetkutuk

Berbagai Penyakit dan Bencana Alam Juga Rusak Kualitas Moral Karena Tetkutuk

Written By Info Breaking News on Senin, 11 September 2023 | 11.46


Jakarta, Info Breaking News
- Kualitas udara yang buruk memang kerap jadi sumber segala penyakit terlebih yang berkaitan dengan sistem pernafasan.
Prilaku manusia yang semakin jahat merusak alam dan murka Tuhan di zaman akhir nya menjadikan banyak sumber penyakit yang semakin aneh yang dulu tidak pernah ada kini segala macam ada, begitupula halnya dengan kejahatan manusia semakin menggila.
Selain gempa bumi dan bencana alam semakin memakan korban manusia dibumi tempat tinggal kaum fasik, yang semakin membelakangi kehendak Tuhan Sang Pencipta yang semakin jijik melihat kemunafikan manusia. 
Dan pada diri umat manusia yang semakin mendekatkan dirinya kepada Tuhan, akan memilih pindah dari kota besar ke daerah pedalaman yang jauh dari keberisikan manusia duniawi. Tapi bagi manusia yang hatinya keras maka narasi dan nasehat baik seperti tulisan ini hanya menjadikannya jengkel dan semakin anggap enteng,karena hatinya sudah melekat pada harta duniawi. 

Namun, penelitian terbaru menyatakan bahwa polusi udara tak hanya mengganggu pernafasan tetapi juga dapat merusak kualitas tidur seseorang.


Live Science, Senin (11/9/2023) melaporkan para peneliti menemukan bahwa orang-orang yang tinggal di daerah dengan polusi udara tinggi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kurang tidur. 


“Kami memperkirakan dampaknya bisa terjadi karena polusi udara bisa mempengaruhi kinerja seseorang, meningkatkan risiko kecelakaan kendaraan, menurunkan mood," ujar Dr. Martha E. Billings dari Universitas Washington. 


"Seiring waktu, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular dan kanker,” sambungnya. 


Sebelumnya di tahun 2020 Science Direct juga pernah membahas soal ini, namun saat itu mekanisme pengaruh polusi udara terhadap tidur masih belum sepenuhnya dimengerti dan hanya sedikit yang telah dipelajari.


Bukti awal menunjukkan dua mekanisme umum yang mencakup efek biokimia polutan pada sistem pengaturan tidur di otak dan perubahan dalam fungsi pernapasan. Polutan udara mungkin mempengaruhi sistem pengaturan tidur melalui saraf penciuman, mengakibatkan perubahan dalam zat kimia saraf. 


Paparan polusi udara pada otak yang rentan bisa menyebabkan iritasi dan kerusakan pada pelindung epitel, yang mengakibatkan peradangan, stres oksidatif, dan degenerasi sel saraf. Kerusakan ini kemungkinan besar memengaruhi perilaku yang dikendalikan oleh otak, termasuk tidur.


Peneliti dari MESA – Studi Multi-Etnis Aterosklerosis memeriksa data tidur dari lebih 1.800 peserta dalam studi tidur yang mereka jalankan. Subyek penelitian memiliki usia rata-rata 68 tahun dan dibagi menjadi beberapa bagian mulai dari polusi udara terendah hingga tertinggi di lokasi rumah mereka. Para peneliti memantau polutan lalu lintas, seperti dinitrogen dioksida, dan materi partikulat halus seperti PM2.5.


Mereka juga mengukur gerakan selama tidur untuk mengukur seberapa baik seseorang tidur saat berada di tempat tidur. Hasilnya, orang yang tidurnya terpapar polusi udara cenderung tidak tidur dengan baik. Para penduduk daerah berpolusi udara disebut memiliki risiko 60 persen lebih tinggi mengalami tidur yang tidak efisien dibandingkan dengan yang tinggal di daerah dengan udara bersih. 


Temuan ini menunjukan bahwa polusi udara dapat mempengaruhi kualitas tidur serta berpotensi menyebabkan masalah jantung dan paru-paru. 


“Peningkatan kualitas udara mungkin dapat meningkatkan kesehatan tidur dan mengurangi kesenjangan kesehatan,” kata Billings.


Hubungan antara paparan polusi udara dan tidur mungkin terkait dengan dampaknya pada sistem pernapasan. Partikel kecil dalam polusi udara, khususnya, diyakini dapat terendap di saluran pernapasan dan merusak sel-selnya. Kerusakan pada sel-sel pernapasan dapat mengakibatkan gangguan pernapasan, seperti peradangan atau pembengkakan pada selaput lendir. 


Terutama di saluran pernapasan atas, hal ini dapat menyebabkan penyempitan dan hambatan aliran udara normal, meningkatkan risiko apnea dan hipoksia, yang akhirnya dapat mengganggu tidur. *** Emil F Simatupang. 


Dapatkan berita aktual lainnya, hanya tinggal klik Beranda di bawah ini.


Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Featured Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved