Jakarta, Infobreakingnews - Mahfud menilai, pernyataan mengenai keberadaan mafia narkoba harus ditindaklanjuti
dengan bijaksana oleh jajaran Istana Kepresidenan. Selama ini, keberadaan mafia
narkoba tidak diproses dengan tepat. Namun, pihak Istana malah kebakaran
jenggot atas pernyataannya dan meruncingkan pada polemik.
Menteri Sekretaris Negara Sudi
Silalahi kembali membantah ada mafia narkotika di lingkungan Istana Negara
seperti diungkap Ketua Mahkamah
Konstitusi Mahfud MD. Menurut Sudi, Mahfud hanya mencari
popularitas.
"Enggak perlu cari popularitas dengan cara-cara seperti
itu," kata Sudi di sela-sela upacara peringatan Hari Pahlawan di Taman
Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta, Sabtu (10/11/2012).
Sebelumnya, Mahfud menduga ada
mafia di lingkaran Istana terkait
pemberian grasi untuk
terpidana kasus narkoba, Meirika Franola alias Ola (42). Setelah
mendapat grasi dari hukuman mati menjadi seumur hidup, Ola diduga menjadi otak penyelundupan sabu seberat
775 gram dari India ke
Indonesia.
Sudi mengatakan, Mahfud tak
perlu mengungkapkannya ke publik jika hanya menduga tanpa bukti. Ia
mengungkapkan, MK pernah melanggar undang-undang, tetapi tak diungkap ke
publik.
"Kalau dugaan kenapa mesti diumbar-umbar? Kita juga
menduga, kita pernah tahu, MK melanggar UU. Tapi kita enggak pernah umbar kok.
Kita baik-baik beri tahu dia (Mahfud)," kata Sudi.
Seperti diberitakan, menurut BNN, sabu 775 gram itu dibawa oleh
kurir, NA (40), dengan menumpang pesawat. NA, yang seorang ibu rumah tangga,
ditangkap BNN di Bandara Husein Sastranegara, Bandung, Jawa Barat, 4 Oktober
lalu.
Pada Agustus 2000, Ola bersama dua sepupunya, Deni Setia Maharwa
alias Rafi Muhammed Majid dan Rani Andriani, divonis hukuman mati. Mereka
terbukti bersalah menyelundupkan 3,5 kg heroin dan 3 kg kokain melalui Bandara Soekarno-Hatta
ke London, 12 Januari 2000.
Presiden
mengatakan, grasi untuk Ola
diberikan setelah mendapat pertimbangan dari banyak pihak. Namun, Presiden
tidak akan menyalahkan pihak yang telah memberikan pertimbangan kepadanya.
"Kepada saya disampaikan berbagai pertimbangan oleh pihak-pihak yang memberikan pertimbangan itu. Meski demikian, tanggung jawab tetap di saya. Tidak boleh saya menyalahkan Mahkamah Agung, tidak boleh saya menyalahkan menteri. Kalau saya berikan atau menolak grasi, saya bertanggung jawab," kata Presiden.
Pihak istana menuding Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD suka bercanda atau cengengesan dengan mengatakan ada dugaan mafia di Istana terkait pembebasan terpidana narkoba.
"Orangnya Jawa Timuran seperti saya, suka bercanda atau cengengesan seperti saya juga. Seperti saat almarhum Gus Dur mengatakan bahwa maksudnya Mahfud mau jadi Mentri Pertahanan, tapi kepleset jadi Mentri Pertahanan," ungkap Staf Khusus Presiden bidang informasi Heru Lelono kepada wartawan, Sabtu (10/11/2012).*** Juanda Foster



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !