Headlines News :
Home » » Redenominasi Rupiah

Redenominasi Rupiah

Written By Unknown on Rabu, 12 Desember 2012 | 11.40

Jakarta, Infobreakingnews - Bambang Brodjonegoro sebagai Pelaksana tugas Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan pemerintah memperhitungkan kemungkinan pembulatan harga ke atas dalam masa transisi kebijakan redenominasi. "Hal itu pasti akan diperhitungkan dalam pencetakan satuan baru," kata Bambang kepada wartawan Infobreakingnews 12/12/2012.

Bambang menegaskan ada masa transisi dalam realisasi kebijakan tersebut. Menurut dia, akan ada masa di mana mata uang lama dan baru sama-sama beredar di masyarakat. "Perubahan tidak seketika," ungkapnya.







Kebijakan redenominasi merupakan kebijakan penyederhanaan penyebutan nominal mata uang. Penyederhanaan akan dilakukan dengan menghilangkan tiga nol dalam satuan mata uang rupiah. Adapun nilai beli tak berubah. Saat ini, pemerintah tengah mengupayakan agar Rancangan Undang-Undang Redenomiasi rupiah masuk RUU prioritas dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas).

Bank Indonesia berharap tak ada dampak inflasi dalam proses redenominasi, diungkapkan Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo.

Sejumlah warga khawatir mengenai rencana pemerintah menyiapkan rancangan undang-undang redenominasi mata uang. Warga khawatir redenominasi itu berakibat turunnya nilai mata uang yang mereka miliki. Meski pemerintah telah menyebutkan, redenominasi itu adalah bentuk penyederhanaan bilangan mata uang. Bukan pengurangan nilainya.


Redenominasi adalah menyederhanakan bilangan mata uang tanpa memotong nilai mata uang atau mengubah besaran nilai tukarnya. Sementara sanering, merupakan pemotongan nilai mata uang.

“Sanering pernah dilakukan pemerintah untuk mengatasi kondisi hiper-inflasi pada era 1960. Nilai uang dari Rp 500 dipotong jadi Rp 50, dan uang Rp 1.000 dipotong jadi Rp 100, sehingga masyarakat kehilangan daya beli. Hal itu dilakukan untuk mengurangi jumlah uang yang beredar sebagai salah satu cara mengatasi hiper-inflasi.



Indonesia akan segera menerapkan redenominasi rupiah dengan menghilangkan 3 angka nol di mata uangnya. Sejumlah negara terhitung pernah sukses melakukan redenominasi mata uangnya, baik dengan menghilangkan angka nol, maupun menambahkannya.


Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya adalah Turki. Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.

Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Seperti dikutip dari situs bank sentral Turki, kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.

Indonesia memang pernah mengalami hiperinflasi, namun tidak pernah melakukan redenominasi. Yang terjadi hanyalah nilai rupiah yang merosot tajam. Menurut studi dari Departemen Ilmu Politik Universitas North Carolina, Indonesia pernah hiperinflasi tinggi yakni pada tahun 1962 (131%), 1963 (146%), 1964 (109%), 1965 (307%), 1966 (1136%), 1967 (106%), dan 1968 (129%).

Banyak negara yang mengalami hiperinflasi dan akhirnya melakukan redenominasi. Nah, untuk redenominasi yang akan dilakukan Indonesia nanti tidak dikarenakan hiperinflasi, namun semata-mata untuk menyederhanakan saja. 

Berikut daftar beberapa negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya, baik dengan menambah ataupun mengurangi angka nol dalam pecahan uangnya :

  1.  Islandia, Islandia menghilangkan 2 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1981.
  2.  Rusia, menghilangkan 3 angka nol dalam 3 kali operasi pada tahun 1947, 1961 dan 1998.
  3.  Meksiko menghilangkan 3 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1993.
  4.  Polandia menghilangkan 4 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1995.
  5.  Ukraina menghilangkan 5 angka nol dalam 1 kali operasi pada tahun 1996.
  6.  Peru menghilangkan 6 angka nol melalui 2 kali operasi pada thaun 1985 dan 1991.
  7.  Bolivia menghilangkan 9 angka nol melalui 2 kali operasi tahun 1963 dan 1987.
 *** James Donald
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Featured Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved