Jakarta, Infobreakingnews - Bencana banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya yang terjadi
selama beberapa hari, menyebabkan kebanyakan pengungsi terkena sakit kepala dan
nyeri akibat stress. Penyakit diare juga menjadi penyakit yang banyak
menjangkiti para korban banjir di pengungsian. Hingga hari ini, jumlah
penderita diare semakin meningkat.
"Hari pertama kedua biasanya nyeri badan, sakit kepala, sakit lambung karena stres, tapi hari ketiga keempat diare naik jadi urutan kedua ketiga," ujar dr Astari Putri dari Komite Tanggap Bencana IDI dalam acara jumpa pers 'Upaya Antisipasi Penyakit Pasca Banjir Melalui Penyediaan Air Bersih' di gedung PB IDI, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta.
dr Astari menuturkan bahwa sulitnya mendapatkan air bersih untuk MCK (mandi cuci kakus) merupakan salah satu kendala di lapangan. Kondisi inilah yang membuat risiko pengungsi terkena diare semakin meningkat.
"Kita sudah kehabisan obat diare untuk anak dan dewasa serta salep kulit, harus disuplai lagi. Sedangkan ISPA masih menjadi urutan pertama (penyakit pasca banjir)," ungkap dr Astari.
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, berikut ini adalah urutan penyakit-penyakit yang paling banyak menyerang pengungsi saat ini :
1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)
2. Infeksi jamur kulit
3. Diare
4. Gastritis (penyakit lambung)
5. Cefalgia (sakit kepala)
6. Myalgia (sakit otot)
7. Penyakit gigi dan mulut
8. Luka akibat benda tajam
9. Penyakit pada mata seperti conjungtivitis
10. Penyakit pada telinga
"Penyakit yang muncul berkaitan dengan hygienitas seseorang. Sekitar 70-80 persen masalah seperti diare, gatal dan tifoid bisa diselesaikan dengan pengadaan air bersih," ungkap Ketua IDI dr Zaenal Abidin MHKes.
dr Zaenal menjelaskan bahwa biasanya setelah banjir muncul penyakit demam berdarah, karena air sudah jernih dan jentik-jentik nyamuk mulai tumbuh hingga menyerang penduduk. Untuk itu hal ini harus tetap diwaspadai dan dilakukan pencegahan lebih dini.
"Kalau mau menolong juga sebaiknya pakai sepatu boot, itu penting untuk melindungi diri sendiri. Karena kalau kita ceroboh bukannya bisa menolong orang lain tapi justru jadi orang yang ditolong, sepatu boot ini untuk lindungi kaki dari benda tajam atau jika ada ular," tuturnya.
"Hari pertama kedua biasanya nyeri badan, sakit kepala, sakit lambung karena stres, tapi hari ketiga keempat diare naik jadi urutan kedua ketiga," ujar dr Astari Putri dari Komite Tanggap Bencana IDI dalam acara jumpa pers 'Upaya Antisipasi Penyakit Pasca Banjir Melalui Penyediaan Air Bersih' di gedung PB IDI, Jalan Sam Ratulangi, Jakarta.
dr Astari menuturkan bahwa sulitnya mendapatkan air bersih untuk MCK (mandi cuci kakus) merupakan salah satu kendala di lapangan. Kondisi inilah yang membuat risiko pengungsi terkena diare semakin meningkat.
"Kita sudah kehabisan obat diare untuk anak dan dewasa serta salep kulit, harus disuplai lagi. Sedangkan ISPA masih menjadi urutan pertama (penyakit pasca banjir)," ungkap dr Astari.
Berdasarkan hasil investigasi di lapangan, berikut ini adalah urutan penyakit-penyakit yang paling banyak menyerang pengungsi saat ini :
1. ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas)
2. Infeksi jamur kulit
3. Diare
4. Gastritis (penyakit lambung)
5. Cefalgia (sakit kepala)
6. Myalgia (sakit otot)
7. Penyakit gigi dan mulut
8. Luka akibat benda tajam
9. Penyakit pada mata seperti conjungtivitis
10. Penyakit pada telinga
"Penyakit yang muncul berkaitan dengan hygienitas seseorang. Sekitar 70-80 persen masalah seperti diare, gatal dan tifoid bisa diselesaikan dengan pengadaan air bersih," ungkap Ketua IDI dr Zaenal Abidin MHKes.
dr Zaenal menjelaskan bahwa biasanya setelah banjir muncul penyakit demam berdarah, karena air sudah jernih dan jentik-jentik nyamuk mulai tumbuh hingga menyerang penduduk. Untuk itu hal ini harus tetap diwaspadai dan dilakukan pencegahan lebih dini.
"Kalau mau menolong juga sebaiknya pakai sepatu boot, itu penting untuk melindungi diri sendiri. Karena kalau kita ceroboh bukannya bisa menolong orang lain tapi justru jadi orang yang ditolong, sepatu boot ini untuk lindungi kaki dari benda tajam atau jika ada ular," tuturnya.
PB IDI terus berupaya agar persediaan obat tetap cukup, serta
melakukan upaya promotif dan preventif dengan mengadakan edukasi ke masyarakat
melalui penyuluhan mengenai kebersihan diri dan lingkungan. ***Nadya



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !