Pekalongan, infobreakingnews - Bencana banjir tak hanya membuat permukiman terendam dan ribuan warga mengungsi. Bencana ini juga menyebabkan harga sejumlah komoditas sayur mayur dan beras perlahan mulai naik.
Hal itu disebabkan menurunnya pasokan dari daerah penghasil karena banjir yang melanda sejumlah daerah di pantai utara Jawa Barat.
Dalam sepekan terakhir pasokan sayur mayur ke Pasar Induk Kramat Jati hanya sekitar 1.015 ton, atau turun hingga 11 persen dari sebelumnya yang mencapai 1.143 ton per pekan. Sementara buah-buahan dari semula 843 ton menjadi 563 ton atau sekitar 32 persen.
"Untuk pasokan sayur mayur berkurang 11 persen dan buah 32 persen. Menurunnya pasokan ini disebabkan distribusi komoditas yang dihasilkan dari daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah terjebak banjir di Pantura Jawa Barat seperti Indramayu dan Karawang. Sementara jika memilih jalur selatan, rutenya memutar dan waktunya lebih lama lagi," kata Sugiyono, Asisten Manajer Unit Pasar Besar (UPB) Pasar Induk Kramat Jati kepada SP, Selasa (21/1) pagi.
Selain karena banjir, Sugiyono mengatakan berkurangnya pasokan komoditas juga disebabkan kebutuhan yang tinggi terutama ke daerah bencana lainnya seperti bencana meletusnya Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Salah satu komoditas yang tersedot ke Sumatera Utara adalah cabai.
"Sayur mayur seperti cabai yang dihasilkan di daerah Sumatera tidak dikirim ke Jawa, tapi digunakan untuk memenuhi kebutuhan di Sumatera sendiri. Sehingga pasokan di Jawa berkurang," ungkap Sugiyono.
Dikatakan, harga komoditas cabai merah besar melonjak dari sebelumnya Rp 28.000 menjadi Rp 32.000 per kilogram, sementara cabai merah keriting naik menjadi Rp 32.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 30.000.
"Kenaikan harganya sekitar 10 sampai 15 persen," jelasnya.
Wawan (24) seorang Pengelola Agen Bawang Merah di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, menuturkan banjir yang terjadi di beberapa wilayah seperti Indramayu mengakibatkan distribusi komoditas ini terhambat hingga lebih dari satu hari.
Truk-truk pengangkut yang mengalihkan rute untuk menghindari kemacetan akibat banjir justru membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama. Truk pengangkut harus menempuh perjalanan hampir 36 jam dari yang biasanya hanya sekitar 12 jam.
"Pasokannya jadi berkurang. Biasanya minimal dua truk atau 14 ton masuk setiap hari. Tapi sekarang cuma satu truk. Apalagi kalau sampai truknya terkena banjir, bawang banyak yang terendam dan sampai di sini membusuk," katanya.
Dengan menurunnya pasokan, Wawan mengaku terpaksa menjual bawang merah kualitas baik seharga Rp 21.000 per kilogram. Sementara untuk kualitas sedang seharga Rp 17.000 per kilogram.
"Saya perkirakan harga bawang ini dalam waktu dekat bisa mencapai Rp 22.000 sampai Rp 25.000 per kilogram," katanya.
Selain pasokan sayur mayur, banjir di Pantura Jawa Barat juga mengganggu pasokan beras ke Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC). Tersendatnya pasokan mulai terasa sejak Minggu (19/1) kemarin.
Ayong (54), salah seorang pedagang beras di PIBC menuturkan, biasanya pasokan beras ke pasar ini sebanyak 200 truk atau sekitar 2.000 ton per harinya. Namun, pada hari kemarin hanya sekitar 20 truk atau sebanyak 200 ton beras.
"Saya cuma kebagian dua truk biasanya bisa sampai empat truk," kata Ayong
Dikatakan pasokan beras terhambat karena banjir yang melanda di beberapa wilayah khususnya Jawa Barat. Apalagi, sebagian besar pasokan beras berasal dari wilayah yang diterjang banjir seperti Karawang, Cirebon, Subang, dan lainnya.
"Beras dari Jawa Tengah dan Jawa Timur juga terhambat banjir," katanya.
Menurunnya pasokan membuat Ayong terpaksa menjual 30 ton stok beras yang dimilikinya. Jika pasokan terus terhambat, Ayong memperkirakan kenaikan harga beras akan mencapai Rp 300 per kilogram dari harga saat ini.
"Sekarang saja sudah naik Rp 100. Yang kami takutkan kalau masih hujan dan banjir. Dipastikan harga akan naik lagi," katanya.
Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi DKI Jakarta, Nelly Sukidi mengatakan, pasokan di PIBC mulai terdampak dari banjir yang terjadi di beberapa akses jalan wilayah penghasil beras. Salah satunya karena efek banjir yang terjadi di Indramayu.
"Seharusnya hari ini masuk 2.500 ton, tapi cuma masuk 550 ton," katanya.
Nelly khawatir kondisi ini masih terus berlanjut. Dengan stok di PIBC yang semakin berkurang, harga beras dipastikan akan terus naik.
"Kalau banjirnya di Jakarta kami tidak masalah selama aksesnya masih bisa dilalui. Kalau di daerah banjir seperti saat ini, kami langsung merasakan dampaknya. Para agen di sini kehabisan stok beras. Kalau kondisinya masih terus sama tiga hari kedepan ini akan menjadi masalah serius di Jakarta," katanya.***Any Josephine.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !