Ambon, infobreakingnews - Banyaknya kenangan yang teramat manis dan yang membahagiakan kedua orangtuanya, sehingga kepergian sang buah hati, sianak ajaib Gayatri diusia 19 tahun itu masih menyimpang segunung rasa kesedihan yang mendalam ditengah keluarga, terutaman bagi kedua orangtua almarhumah, Darwis Wailissa dan Nurul Idawaty di Ambon.
Di hari kedua Minggu, (26/10/2014) sepeninggal putri cerdasnya, Deddy masih tak bisa membendung air mata, apalagi bagi Nurul, sang ibu yang melahirkan.
Deddy masih terkenang segala hal tentang Gayatri Wailissa, putrinya itu. Namun, remaja berbakat yang menguasai 14 bahasa internasional tersebut pulang sebelum sebagian cita-citanya diraih.
Masih terngiang di telinga Deddy cita-cita yang kerap dilantangkan Gayatri. Peraih gelar Kick Andy Young Hero 2014 itu punya tiga cita-cita menakjubkan, menjadi seorang duta besar, juru bicara presiden, atau anggota Badan Intelijen Negara (BIN).
"Masa baktinya untuk negara benar-benar menggebu, namun belum sempat terlaksana. Pernah dia katakan buat saya; Bapak, saya berbakti untuk bangsa dan negara dan saya harus mati untuk bangsa dan negara," kata Deddy Darwis Wailissa, ayahanda Gayatri, saat ditemui Metro TV di kediamannya, hari ini.
Mimpi itu dirajutnya sejak duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Demi mewujudkan cita-citanya, dia tak henti mengasah diri. Termasuk memperlajari berbagai bahasa secara otodidak. Setidaknya dia mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Korea, Jepang, India, Rusia, dan Tagalog.
"Kata Gayarti: Pak, cita-cita saya itu tiga, di antaranya duta besar, juru bicara presiden, dan badan intelijen negara. Itu cita-cita Gayatri yang sangat menggebu sekali. Sehingga apapun yang menghadang dia tak merasa gentar dan memang gayatri itu orang pantang menyerah," kenang Deddy.
Gayatri rela berpisah dari haribaan kedua orang tuanya dalam beberapa waktu. Tapi, itu bukan kendala. Toh, hasilnya selalu mengagumkan. Gayatri tak jarang menyunggingkan aroma kebahagiaan di rumah petak, pojok Kota Ambon. Lukisan kebahagiaan dan prestasi akademik itu pun dia uarkan ke penjuru Tanah Air lewat berbagai kegiatan.
Lulusan SMA Unggulan Siwalima, Ambon, itu menorehkan segudang prestasi ciamik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Terakhir, dia menjadi Duta ASEAN untuk Indonesia di bidang anak. Saat menjadi delegasi tunggal di Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-Hak Anak tingkat ASEAN itu, Gayatri mendapat tempat terhormat dengan sapaan Doktor.
Bahkan, menurut Deddy, putrinya pernah ditawari Pemerintah Australia agar pindah kewarganegaan karena kecerdasannya. Namun, Gayatri menolak.
"Saya ingin saya mati dikenang oleh masyarakat dan tinggalkan kenangan yang susah dilupakan oleh masyarakat Indonesia," ungkap Gayatri pada satu masa seperti diceritakan ayahandanya.
Kenangan tentang segala kehebatan almarhumah itulah yang membuat Deddy dan Nurul masih tak percaya ditinggal buah hatinya. Apalagi, rekam jejak medis perempuan kelahiran 1996 itu tak pernah bermasalah, kata Deddy.
Setengah jam sebelum dilaporkan pingsan sehabis berolahraga di sekitar Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2014), Deddy masih sempat berbincang-bincang dengan Gayatri via sambungan telepon. Dalam obrolan itu, putrinya berkata dalam kondisi prima.
Namun, setelah itu, orang tuanya mendapat telepon kalau Gayatri pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Dia tak sadarkan diri. Empat hari berselang, Gayatri meninggal dunia.
Jenazah Gayatri Wailissa lantas dibawa ke Ambon. Rombongan tiba di Bandara Pattimura, Ambon, Maluku, sekira pukul 08.00 WIT, Sabtu (25/10/2014). Isak tangis keluarga dan kerabat dekat menyambut kedatangan gadis jenius tersebut.
Mendiang lantas dibawa ke Masjid Raya Al Fatah, Ambon, untuk disalatkan. Jenazah disambut Gubernur Maluku Said Assegaf dan Sekretaris Pemerintah Kota Ambon Antony Gustav Latuheru.
Setelah disalatkan, perempuan berusia 17 tahun itu disemayamkan di Aula Kodim 1504 Pulau Ambon. Selain pejabat dan keluarga, warga setempat pun dipersilakan melayat almarhum. Tak lama kemudian, Gayatri dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Kapahaha, Kota Ambon.
"Seakan-akan dia belum hilang dari ingatan saya. Dari hati saya yang dalam, kenapa terlalu cepat dia dipanggil oleh Allah SWT dalam usia 19 tahun?" isak Deddy tumpah di pangkuan.
Deddy masih terkenang segala hal tentang Gayatri Wailissa, putrinya itu. Namun, remaja berbakat yang menguasai 14 bahasa internasional tersebut pulang sebelum sebagian cita-citanya diraih.
Masih terngiang di telinga Deddy cita-cita yang kerap dilantangkan Gayatri. Peraih gelar Kick Andy Young Hero 2014 itu punya tiga cita-cita menakjubkan, menjadi seorang duta besar, juru bicara presiden, atau anggota Badan Intelijen Negara (BIN).
"Masa baktinya untuk negara benar-benar menggebu, namun belum sempat terlaksana. Pernah dia katakan buat saya; Bapak, saya berbakti untuk bangsa dan negara dan saya harus mati untuk bangsa dan negara," kata Deddy Darwis Wailissa, ayahanda Gayatri, saat ditemui Metro TV di kediamannya, hari ini.
Mimpi itu dirajutnya sejak duduk di kelas dua sekolah menengah atas. Demi mewujudkan cita-citanya, dia tak henti mengasah diri. Termasuk memperlajari berbagai bahasa secara otodidak. Setidaknya dia mampu berbicara dan menulis dalam bahasa Inggris, Italia, Spanyol, Belanda, Mandarin, Arab, Jerman, Perancis, Korea, Jepang, India, Rusia, dan Tagalog.
"Kata Gayarti: Pak, cita-cita saya itu tiga, di antaranya duta besar, juru bicara presiden, dan badan intelijen negara. Itu cita-cita Gayatri yang sangat menggebu sekali. Sehingga apapun yang menghadang dia tak merasa gentar dan memang gayatri itu orang pantang menyerah," kenang Deddy.
Gayatri rela berpisah dari haribaan kedua orang tuanya dalam beberapa waktu. Tapi, itu bukan kendala. Toh, hasilnya selalu mengagumkan. Gayatri tak jarang menyunggingkan aroma kebahagiaan di rumah petak, pojok Kota Ambon. Lukisan kebahagiaan dan prestasi akademik itu pun dia uarkan ke penjuru Tanah Air lewat berbagai kegiatan.
Lulusan SMA Unggulan Siwalima, Ambon, itu menorehkan segudang prestasi ciamik, baik di tingkat nasional maupun internasional. Terakhir, dia menjadi Duta ASEAN untuk Indonesia di bidang anak. Saat menjadi delegasi tunggal di Convention on the Right of the Child (CRC) atau Konvensi Hak-Hak Anak tingkat ASEAN itu, Gayatri mendapat tempat terhormat dengan sapaan Doktor.
Bahkan, menurut Deddy, putrinya pernah ditawari Pemerintah Australia agar pindah kewarganegaan karena kecerdasannya. Namun, Gayatri menolak.
"Saya ingin saya mati dikenang oleh masyarakat dan tinggalkan kenangan yang susah dilupakan oleh masyarakat Indonesia," ungkap Gayatri pada satu masa seperti diceritakan ayahandanya.
Kenangan tentang segala kehebatan almarhumah itulah yang membuat Deddy dan Nurul masih tak percaya ditinggal buah hatinya. Apalagi, rekam jejak medis perempuan kelahiran 1996 itu tak pernah bermasalah, kata Deddy.
Setengah jam sebelum dilaporkan pingsan sehabis berolahraga di sekitar Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (20/10/2014), Deddy masih sempat berbincang-bincang dengan Gayatri via sambungan telepon. Dalam obrolan itu, putrinya berkata dalam kondisi prima.
Namun, setelah itu, orang tuanya mendapat telepon kalau Gayatri pingsan dan dilarikan ke Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta. Dia tak sadarkan diri. Empat hari berselang, Gayatri meninggal dunia.
Jenazah Gayatri Wailissa lantas dibawa ke Ambon. Rombongan tiba di Bandara Pattimura, Ambon, Maluku, sekira pukul 08.00 WIT, Sabtu (25/10/2014). Isak tangis keluarga dan kerabat dekat menyambut kedatangan gadis jenius tersebut.
Mendiang lantas dibawa ke Masjid Raya Al Fatah, Ambon, untuk disalatkan. Jenazah disambut Gubernur Maluku Said Assegaf dan Sekretaris Pemerintah Kota Ambon Antony Gustav Latuheru.
Setelah disalatkan, perempuan berusia 17 tahun itu disemayamkan di Aula Kodim 1504 Pulau Ambon. Selain pejabat dan keluarga, warga setempat pun dipersilakan melayat almarhum. Tak lama kemudian, Gayatri dimakamkan di Taman Makam Bahagia, Kapahaha, Kota Ambon.
"Seakan-akan dia belum hilang dari ingatan saya. Dari hati saya yang dalam, kenapa terlalu cepat dia dipanggil oleh Allah SWT dalam usia 19 tahun?" isak Deddy tumpah di pangkuan.
Perjalanan hidup nan penuh misteri, dimana manusia tak sanggup mengartikan, mengapa Sang Pencipta begitu cepat memanggil Gayatri yang telah mempesona hati dunia. Hal ini dikarenakan sulitnya ditemukan sepanjang sejarah peradaban manusia, adanya seorang wanita bebrusia muda belia, mampu secara fasih berbahasa 14 Negara. Disamping keinginannya yang tinggal selangkah lagi terwujud menjadi Juru BIcara Kepresidenan dimasa Presiden Joko Widodo, untuk menemani sang Presiden dalam menerima tamu dari berbagai negara. Apalagi sesungguhnya Gayatri pada hari dimana dia pertama kali merasa pusing dan dilarikan ke RS Abdi Waluyo itu, terjadi pada pagi Senin (20/10) dimana pada sianganya akan menghadiri acara pelantikan Joko Widodo sebagai Presiden ke 7. Karena untuk mendapatkan rasa bugar itulah Gayatri sengaja berolah raga pada Senin pagi di Taman Suropati Menteng, Jakarta Pusat, dimana tepatnya didepan rumah dinas Gubernur DKI Jakarta tersebut. *** Nadya Emilia.

.jpg)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !