![]() |
| Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen (YLKI) Tulus Abadi |
Jakarta, Info Breaking News
- Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen
Indonesia (YLKI) Tulus Abadi menilai sanksi Kementerian Perhubungan
(Kemenhub) yang membebastugaskan direktur dan pegawai teknik Lion Air
tidak memberi efek jera.
Tulus
berharap agar Kemenhub bisa memberikan sanksi yang lebih keras, seperti tak
boleh menambah rute baru serta pesawat baru.
"Harus
ada sanksi yang keras kepada Lion Air, agar mereka shock therapy. Kalau memecat
direktur teknis itu bukan sanksi korporasi. Kalau kasih sanksi yang harus
menjerakan," ungkap Tulus, Kamis (1/11/2018).
Sanksi yang
kurang tegas, menurut Tulus, diyakini tak mampu memperbaiki kinerja Lion Air
yang carut marut. Pada akhirnya, konsumen yang akan terus menjadi korban.
"Bisa
juga pembekuan izin baru atau bahkan lebih, biar mereka kapok, kalau cuma
sanksi yang kemarin tidak berasa bagi mereka," cetusnya.
Bayangkan saja, lanjut Tulus, seharusnya pesawat JT 610 itu harus ada perbaikan terlebih dahulu mengingat pada malam sebelumnya pesawat tersebut memang mengalami gangguan.
"Pesawat itu patut diduga harus maintenance dulu, setelah malamnya berangkat dari Denpasar-Jakarta. Terbukti tidak maintenance, keluhan pilot diabaikan. Kalau sudah maintenance dan sudah dianggap baik, maka dirilis baru bisa terbang," tegas dia.
Tak hanya itu, Tulus menyebut pemecatan direktur bukan bentuk sanksi yang tegas terhadap Lion Air yang notabene adalah maskapai penerbangan swasta.
Bayangkan saja, lanjut Tulus, seharusnya pesawat JT 610 itu harus ada perbaikan terlebih dahulu mengingat pada malam sebelumnya pesawat tersebut memang mengalami gangguan.
"Pesawat itu patut diduga harus maintenance dulu, setelah malamnya berangkat dari Denpasar-Jakarta. Terbukti tidak maintenance, keluhan pilot diabaikan. Kalau sudah maintenance dan sudah dianggap baik, maka dirilis baru bisa terbang," tegas dia.
Tak hanya itu, Tulus menyebut pemecatan direktur bukan bentuk sanksi yang tegas terhadap Lion Air yang notabene adalah maskapai penerbangan swasta.
"Kecuali,
Garuda Indonesia, itu baru pas, tapi ini enggak terlihat sama sekali
sanksinya," pungkas Tulus. ***Samuel Art



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !