![]() |
| Ilustrasi Manusia Nusantara |
Jakarta, Info Breaking News – Sebelumnya, mari kita mundur sejenak ke masa pra-sejarah, dimana ketika
kepulauan di wilayah Nusantara ini masih tersambung satu sama lain dan diantara
pulau besar tersebut mengalir sungai-sungai besar.
Di bantaran sungai-sungai besar tersebut tinggal
kelompok-kelompok orang yang sudah terikat dalam ikatan tradisi dan pola
kemasyarakatan yang sederhana. Mereka mengisi hidupnya dengan cara barter antar
kelompok untuk memenuhi kebutuhannya. Mereka selalu berhubungan dengan kelompok
lain di seberang sungai dan selalu menjaga hubungan baik antar satu sama lain.
Satu hal yang mengikat mereka pada masa itu adalah mereka
selalu menyebut diri mereka "anak air". Inilah yang membuat
mereka merasa bersaudara satu sama lainnya. Sesama anak air ini selalu
bersilaturahmi menjaga hubungan baik mereka karena mereka ada kepentingan
barter kebutuhan, sekaligus menjaga hubungan baik secara kekeluargaan.
Hingga jaman es mencair, air laut bergerak masuk ke
dalam aliran sungai mengikuti pergerakan bumi, dan pulau-pulau besar itu secara
perlahan menjadi terpisah dan dibatasi oleh laut yang mengisi aliran sungai
besar tadi. Pulau-pulau itu akhirnya menjadi terpisah oleh laut dan jarak
antaranya semakin jauh.
Meskipun terpisah oleh lautan, anak-anak air tersebut
tetap menjaga hubungan baik mereka dan selalu berusaha yang terbaik dalam
menerima kedatangan anak air dari seberan.
Begitu pula ketika menyeberang, mereka selalu bersikap sebaik mungkin
agar bisa diterima dengan baik oleh saudaranya di seberang.
Hal inipun merupakan bukti bahwa bangsa kita adalah
bangsa maritim yang telah menggunakan jalur pelayaran untuk berdagang secara
barter dan selalu menigkatkan kualitas kendaraan laut yang mereka gunakan dari
masa ke masa.
| Rully Rahadian (Wakil Ketua Umum PWOIN dan Ketua Lembaga Konservasi Budaya Indonesia) |
Dari sekelumit kisah tersebut, kita bisa menyimpulkan
bagaimana karakter bangsa kita secara sederhana, yaitu EMPATIK. Manusia
Nusantara yang secara berabad-terbentuk oleh faktor geografis tetap menjaga
rasa empati terhadap saudaranya masing-masing.
Namun ketika bangsa asing yang pada awalnya ingin
berniaga, melihat keramahan dan ketulusan bangsa ini, berubah pikiran ingin
menguasai bangsa besar dan kaya ini dengan cara mengadu domba. Bahkan dengan
perang fisik yang menumpahkan darah pun turut dilakukannya. Ikatan emosional anak bangsa
yang telah terbentuk berabad-abad ini diluluhlantakkan dengan cara mengadu
domba.
Kini, di jaman modern ini, konsep adu domba masih
dijalankan oleh para aktor dunia yang ingin menguasai Indonesia. Strategi
Psychopolitics dalam medan Asymmetric Warfare atau perang asimetris ini mampu
mengubah pola pikir masyarakat secara cepat, dengan biaya relatif murah, tanpa
bumi hangus tetapi merontokkan idelogi dan nilai-nilai kebangsaan yang telah
dibangun lama.
Kita sebagai warga negara yang paham dan sadar akan
hal tersebut sudah seharusnya mengantisipasi kemungkinan terburuk dari situasi
seperti ini. Paling tidak, kita mampu menjaga kelompok terkecil kita yaitu
keluarga. Jauhkan keluarga kita, lingkungan kita, komunitas kita, dari ancaman
perpecahan bangsa. Beda pilihan dalam kehidupan adalah sebuah kewajaran.
Apalagi dalam kehidupan yang semakin kompleks, kebutuhan manusia tidak sekesar
makan dan tidur. Ada sosialisasi, bisnis, politik dan sebagainya. Jangan jadikan
perbedaan itu sebagai pemecah persatuan persaudaraan dan kekeluargaan kita.
Mari kita jaga karakter empatik bangsa kita yang sudah
menjadi karakter turun temurun dari para leluhur kita. Jangan pernah kita
terpengaruh hasutan, kabar kebohongan dan fitnah dari luar maupun dalam
lingkungan kita sendiri. Selalu waspada dan selalu mencari sumber informasi
yang jelas, berbagai kearifan lokal kita mengajarkan agar kita tidak tersulut
emosi ketika mendengar berita yang tidak sesuai keinginan kita. Lihat, dengar,
pahami dan rasakan. Imbangi rasio kita dengan rasa. Jaga persaudaraan dan
keragaman kita. Inilah aset bangsa yang tidak dimiliki bangsa lain di
dunia. ***Rully Rahadian



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !