Jakarta, infobreakingnews - Terkait strategi pemenangan pada Pilpres mendatang, Kubu PDIP ternyata ingin menyudahi statusnya sebagai partai oposisi, guna meangalahkan Parpol lainnya yang juga dirasa sangat mapan memiliki jam terbang dalam menyiasati strategi Pemilu. Hal ini tercanangkan oleh PDIP mensyaratkan target tinggi untuk mewujudkan rencana itu, yaitu menjadi partai pemenang pemilu. Butuh calon presiden 'kelas berat' yang bisa melejitkan PDIP untuk menjuarai kontestasi 2014.
Apakah Jokowi sosok yang mampu memenangkan strategi pemenangan itu?. Jawabannya , Ya pasti lah Jokowi sosok yang sangat laku dijual kepada semua lapisan rakyat Indonesia yang tidak saja pouler di tanah Nusantara Indonesia, tapi di mata dunia pun Jokowi merupakan tokoh paling populer nomor 7 sedunia, dan Barack Obama, menduduki nomor satu dunia.
"Kita serahkan keputusannya kepada Ibu Megawati. Yang jelas, calon presiden harus punya ideologi Pancasila, yang bisa memperbaiki permasalahan bangsa, dan yang punya dukungan publik yang besar. Saya nggak mau sebut nama lho," jawab Ketua DPP PDIP Maruarar Sirait saat berbincang dengan infobreakingnews.com , Rabu (3/7/2013).
PDIP berencana berhenti menjadi oposan lantaran ingin berbuat lebih banyak bagi Indonesia. Jika menjadi partai penguasa, tentu idealisme partai ini akan lebih mudah tersalurkan. Rakyat Indonesia yang sudah banyak ditipu oleh janji palsu penguasa dimasa lalu, akan sangat mudah terbakar dan melakukan anarkis, jika terus diwarnai gaya Oposan sebuah Parpol.
"Kita ingin berhenti menjadi partai oposisi, tapi harus memenangkan melalui pemilu. Kita tahu, tidak ada partai yang ingin menjadi oposisi seumur hidup," ungkap Ara, panggilan akrab Maruarar.
Berbicara soal capres yang punya dukungan publik besar, berbagai survei yang mengulas soal capres potensial telah dilaksanakan. Gubernur DKI Joko Widodo alias Jokowi selalu menjuarai survei-survei itu. Bahkan dalam sejumlah survei, elektabilitas Ketua Umum PDIP Megawati terbukti kalah dibanding Jokowi.
"Pada Kongres PDIP ke III di Bali, keputusan yang menyangkut Pilpres otomatis ada di tangan Ibu Mega. Juga, Ibu Mega diberi mandat untuk menentukan calon lain," ujar Ara.
Survei IRC (Indonesia Research Center), Mei 2013, menunjukkan Jokowi didukung oleh 36,8% pemilih PDIP, sementara Megawati hanya 25,2% pemilih PDIP. Jokowi juga mendapatkan dukungan dari pemilih partai lain seperti Partai NasDem (28,4%), PKB (22,0%), PKS (24,0%), PD (31,6%), PAN (19,6%), PPP (30,2%), dan PBB (12,5%).
Menggila nya power Jokowi mampu menembus ring satu berbagai parpol besar seperti dibawah ini, yang tidak pernah terjadi pada sebelumnya tokoh PDIP sepanjang masa.
Pemilih Golkar juga cukup banyak yang mendukung Jokowi (16,4%), meskipun mayoritas pemilih Golkar mendukung pencapresan Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie (38,6%). Pemilih Gerindra memang mayoritas memilih Prabowo Subianto (65,2%), namun ada yang memilih Jokowi (17,4%).
Cukup banyak juga Pemilih Hanura yang memilih Jokowi yakni 19,4%, setengahnya terbelah mendukung pencapresan Wiranto (33,3%), dan Hary Tanoesoedibjo (15%). Swing voters juga berpotensi besar mencurahkan dukungannya ke Jokowi. Dan sesungguhnya hampir disemua parpol yang berjumlah 12 partai itu, Jokowi selalu menjadi trend center, menjadikan terpecah didalam partai yang sudah ada jagoan capresnya.
Bangsa Indonesia akan semakin kuat, mandiri dan beradab dimata dunia, jika memiliki Presiden yang tidak gila hormat, tidak hanya percaya pada laporan palsu pejabat sekitarnya yang selalu menyatakan situasi aman terkendali, padahal semakin amburadol dan penuh praktik korupsi yang menyengsarakan rakyat. Jokowi lah Presiden RI mendatang yang tetap terus blusukan, dan memiliki naluri insting tajam mencium kebutuhan rakyat tanpa batas.
***Emil F Simatupang



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !