Jakarta, infobreakingnews - Ketua Mahkamah Agung (MA) Hatta Ali
berharap tidak ada perpecahan dalam jajaran internal pimpinan Komisi
Yudisial (KY) menyusul pergantian pimpinan yang disebut-sebut diwarnai
perebutan jabatan dan berbuntut perpecahan yang menimbulkan dua fraksi.
MA yakin KY tetap
solid dan kompak dalam mengawasi perilaku hakim. Tidak ada itu perpecahan,
dan memang itulah yang kita harapkan," ujar Ketua M Hatta Ali, di
Jakarta, Senin (1/7).
Hatta Ali yakin, MA
dan KY bakal bersinergi dalam rangka menjaga dan menegakkan kehormatan,
keluhuran martabat, dan perilaku hakim. "Saya harapkan akan
bersinergi, karena komposisinya bagus," katanya.
Pengamat hukum tata
negara, Margarito Kamis, mengatakan, andai betul ada perpecahan di tubuh
KY, hal tersebut jelas sangat memalukan.
Secara pribadi,
Margarito sangat menyesalkan adanya perpecahan di tubuh KY. Apalagi kalau
dilatarbelakangi perebutan kursi Ketua KY. Sebab hal ini akan menjadikan
lembaga bentukan UUD 1945 ini makin lemah.
"Andai tidak
pecah saja KY tidak punya gigi sama sekali, hampir tidak ada faedahnya KY
ini, kecuali sekadar menyeleksi hakim agung. Apalagi kalau ada perpecahan,
semakin tak berfaedah lah," ujarnya.
Menurut Margarito,
KY seharusnya berpolemik dalam hal tukar pikiran, prinsip akademik dan
penegakkan kode etik. Bukan pecah karena politik sesaat memperebutkan
jabatan.
"Apa sih
istimewanya jabatan ketua itu? Protokolernya atau honornya? Itukah yang
dicari? Saya harap mereka tidak terus-menerus berkelahi," ujar
Margarito.
Pucuk pimpinan KY
ditengarai mengalami perpecahan. Konflik internal itu terjadi karena
kekecewaan salah satu komisioner atas hasil pemilihan Ketua dan Wakil Ketua
KY periode 2013-2015.
Salah satu
komisioner KY Taufiqurrahman Syahuri memublikasikan kekecewaannya atas
proses pemilihan pimpinan di lembaga itu. Namun, sejumlah kalangan menilai
bahwa perbuatan Syahuri tidak etis.
Menurut
Taufiqurrohman Syahuri, Suparman Marzuki dan Imam Anshori Saleh melanggar
kesepakatan mengenai kepemimpinan KY periode 2013-2015. Seharusnya,
katanya, KY dipimpin oleh dirinya dengan didampingi Marzuki sebagai Wakil
Ketua KY. Namun, justru Suparman Marzuki-lah yang terpilih sebagai ketua,
dan Abbas Said sebagai wakil ketua.
Ketua KY periode
2013-2015, Suparman Marzuki, meminta pihak tertentu tidak membesar-besarkan
isu perpecahan yang terjadi pada tubuh KY, terkait kompsisi ketua dan wakil
ketua di lembaga tersebut.
"Soal itu
jangan diperbesar lagi. Sudah cukup. Sekarang menatap ke depan. Perbedaan,
menurut saya, adalah sesuatu yang wajar dan lumrah. Kami ini lembaga yang
mengembangkan legaritarian. Buat saya itu bukan sesuatu yang terlalu
penting untuk dibicarakan lagi," kata Suparman di Jakarta, Senin.
Menyikapi hal itu,
Suparman menegaskan bahwa pernyataan Taufiqurrohman tidak menandakan adanya
perpecahan pada tubuh KY. Bahkan, dia meyakini hal tersebut tidak
mengganggu kinerja KY.
"Di KY berlaku
sistem kolektif kolegial. Maka, segala sesuatu dibicarakan oleh tujuh
Komisioner KY. Kami juga punya orang-orang di biro yang bekerja dengan
baik, tidak ada sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan," tuturnya.
Eman Suparman
sendiri saat ini menggantikan Suparman Marzuki menjadi ketua bidang
pengawasan hakim dan investigasi.
Menurut Juru Bicara
KY Asep Rahmat Fajar, pergantian ketua bidang komisioner diputuskan melalui
rapat pleno dan diikuti oleh seluruh anggota.
"Pleno KY untuk
membahas pembidangan komisioner telah selesai dan berlangsung cukup lancar
selama dua jam serta dihadiri oleh seluruh komisioner," katanya.
Asep juga mengatakan
bahwa semua keputusan dihasilkan secara musyawarah mufakat setelah
mempertimbangkan berbagai kepentingan lembaga.
Adapun hasil pleno adalah
sebagai berikut: Ketua Bidang Pengawasan Hakim dan Investigasi dijabat Eman
Suparman, Ketua Bidang Pencegahan dan Peningkatan Kapasitas Hakim dijabat
Ibrahim, Ketua Bidang Seleksi Hakim tetap dijabat Taufiqurrahman Syahuri,
Ketua Bidang Litbang, SDM dan Advokasi tetap dijabat Jaja Ahmad Jayus dan
mantan wakil ketua KY Imam Anshori menjabat Ketua Bidang Hubungan Antar
Lembaga dan Layanan Informasi. (Wilmar P)
|
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !