Tegal, infobreakingnews - Powerfull seni budaya selalu saja mampu melahirkan pemimpin dunia yang memiliki kecerdasan spiritual pada lingkungan sosial masyarakat maupun pada skala sosial politik, yang tumbuh berkembang sesuai dengan tuntutan situasi keadaan suatu negara.
Seni dan Budaya merupakan satu kesatuan
yang tidak terpisahkan di dalam diri manusia semenjak diciptakan oleh Sang Maha
Esa Lagi Maha Kreasi. Kreasi atau Kreativitas inilah yang menjadikan manusia
mampu mengolah rasa dan menggali potensinya sebagai manusia paripurna. Manusia
paripurna tentunya mempunyai Kecerdasan Spiritual yang tinggi.
Tingginya
kecerdasan spiritual itu akan menjadikan manusia mempunyai daya nalar dan daya
juang yang menyatu menjadi rasa. rasa sayang,
rasa cinta, rasa damai menyatu dalam kebahagiaan.
Tidak akan pernah ada
kebahagiaan bila, tidak ada rasa damai, tidak ada rasa sayang dan tidak ada
tidak ada rasa cinta. Cinta dan kasih sayang itulah yang menjadikan kita
mempunyai daya juang untuk meraih segala cita-cita.
Kemerdekaan
itu merupakan wujud dari cinta dan kasih sayang, sebagaimana yang tertuang dalam pembukaan
Undang-undang Dasar 1945, dari alenia pertama sampai dengan alenia ketiga. “Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala
bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,
karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan peri-keadilan. Dan perjuangan
pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentausa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang
kemerdekaan Negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan
makmur. Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh
keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat
Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya”.
Musyawarah Nasional (MUNAS) ke VIII Dewan
Pimpinan Pusat (DPP) Himpunan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha
Esa (HPK) telah melaksanakan hajatnya sebagai organisasi untuk menyelenggarakan
Munas seusai yang tertuang dalam AD/ART organisasi tersebut. Munas ke VIII HPK
kali ini diselenggarakan di Pedepokan Wulan Tumanggal - Tegal Jawa Tengah, pada
tanggal 29 dan 30 Juni 2013 dengan mengambil tema “Kecerdasan Spiritual Dan Seni Budaya Bersatu Melahirkan Pemimpin
Dunia”.
Tema yang diangkat dalam Munas HPK tersebut sangat menarik,
sehingga secara khusus Panitia Penyelenggara mengundang media online infobreakingnews.com ., menurunkan team
khusus untuk meliput kegiatan Munas ke-VIII HPK tersebut.
Berikut petikan
wawancara singkat dengan panitia penyelenggara dan beberapa peserta Munas yang
hadir dari seluruh DPD HPK tinggat I dan tingkat II seluruh Indonesia serta
beberapa utusan Paguyuban yang tergabung dalam HPK.
IB, “apa
alasannya panitia mengangkat tema tersebut?”.
Jaya, “saya menghayati dan
mempelajari, ternyata pemimpin besar dunia berasal
dari latar belakang seniman atau berlatar belakang kebudayaan”.
IB, “baik,
jikalau anda tadi mengatakan, bahwa pemimpin dunia berasal dan berlatar
belakang seniman dan kebudayaan, bagaimana dengan pemimpin Indonesia?”.
Jaya,
”setelah Bung Karno, belum ada lagi pemimpin
Indonesia yang berlatar belakang dari Seniman dan berlatar belakang Kebudayaan,
menjadi pemimpin Indonesia tidak gampang, sebab masyarakat Indonesia sangat
kaya dengan Budaya-nya.
Oleh karena itu pemimpin Indonesia harus mampu menggali
Budaya Indonesia yang berakar dari adat istiadat daerah yang mempunyai kearifan
lokal”. Ucap Jaya selaku panitia acara
Selain itu, beberapa peserta Munas
yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan. “seharusnya, pemimpin Indonesia selayaknya mempunyai wawasan dan berlatar
belakang Seni Budaya, sebab beberapa tokoh pemimpin dan politikus dunia juga
berlatar belakang Seni Budaya, ya contohnya; Hegel, Plato, Napoleon, Hitler,
Gandhi dan masih banyak lainnya, ya termasuk Bung Karno sendiri adalah tokoh
yang lahir dari latar belakang Seni Budaya, selain itu Bung Karno juga
mempunyai kecerdasan spiritual yang tinggi, seorang seniman asitektur dan
mempunyai hobi melukis. Ya termasuk Pancasila yang digali Bung Karno dari dasar
akar Budaya kultur Bangsa Indonesia”.
Pondasi Bangsa
Indonesia, tentunya berakar dan bersumber dari kultur Budaya Bangsa Indonesia
itu sendiri. Bila ingin membangun Bangsa dan Negara Indonesia sejajar dengan
Bangsa-bangsa dan Negara-negara lain di dunia, maka tidak ada cara lain
pemimpin Indonesia harus memahami dan menggali Budaya Indonesia yang bersumber
dari adat istiadat dari daerah-daerah di seluruh Indonesia. Kearifan lokal adat istiadat daerah merupakan sumber
Kebudayaan Bangsa yang sudah menjadi turun temurun dari pinisepuh (Peninggal
lelulur Bangsa Idonesia sejak dahulu kala),
Pancasila digali yang bersumber
dari adat istiadat Bangsa Indonesia yang berbeda-beda dan menjadikan satu
pijakan membangun karakter Bangsa Indonesia sebagaimana semboyan Bhinneka
Tunggal Ika. Berbeda-beda membangun kebersamaan untuk kemakmuran dan
kesejahteraan
Bangsa Indonesia yang berkeadilan sebagaimana semboyan Gotong
Royong. Berbeda-beda latar belakang karakter dan sifat, namun tetap mempunyai
satu tujuan yang sama untuk saling hormat menghormati sebagaimana sifat Budi Pekerti. Mari kita renungkan, mari
kita hayati dan mari kita terapkan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, Gotong
Royong yang berjiwa Budi Pekerti dalam kehidupan kita sehari-hari.
|


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !