Jakarta, infobreakingnews - Foto antara Menko Polhukam Luhut Binsar Pandjaitan bersama Ketua DPR Setya Novanto di dalam kabin sebuah pesawat beredar luas di media sosial. Luhut dan Novanto duduk berdampingan. Hanya berdua.
Luhut dan Novanto terlihat akrab. Padalah, secara politik, keduanya berbeda haluan. Luhut berada di dalam pemerintahan. Sedangankan Novanto bagian dari Koalisi Merah Putih yang terus mengkritisi pemerintah.
Tapi, gambar pada foto itu, seolah menghilang sekat di antara mereka. Dan, ini memantik tanya. Apalagi, bila dihubungkan dengan kasus yang kini membalut Novanto.
Tak ada yang tahu pasti apa yang mereka perbincangkan di dalam pesawat, kecuali mereka berdua. Yang pasti, dalam kasus pencatutan nama presiden dan wapres yang melibatkan Novanto dan transkipnya beredar luas, nama Luhut sempat disebut-sebut.
Transkrip pembicaraan Novanto, pengusaha M. Riza Chalid, Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin yang menyeret-nyeret Luhut sempat dibuka secara eksklusif di acara Mata Najwa Metro TV, pekan kemaren.
Novanto mengakui pernah bertemu Riza dan Maroef. Namun dirinya mengaku dijebak. Dizalimi. Uniknya, Luhut yang namanya berkali-kali disebut, tak bereaksi sama sekali. Dia tenang-tenang saja dan merasa tak dirugikan sama sekali namanya `dijual`.
Mantan menteri era Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini membantah terlibat dalam penawaran jasa perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia, seperti tertuang dalam transkrip. Pria yang mengaku keluar dari Partai Golkar jelang Pilpres 2014 kemarin itu tak akan mengajukan langkah hukum.
"Saya tidak merasa tercemar. Biasa-biasa saja menurut saya. Kami tidak ada waktu melakukan langkah hukum," ujar Luhut di kantor Menkopolhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis 19 November 2015.
Luhut menegaskan, Luhut tidak punya kepentingan apa pun terhadap perusahaan pertambangan asal Amerika Serikat tersebut. Dia berujar, sudah berjanji menjaga profesionalitas sebagai seorang pejabat negara.
"Saya tidak ada bisnis satu peser pun dengan siapa pun. Itu janji saya dengan diri saya dan istri saya. Selama saya jadi pejabat negara, saya tidak akan melacurkan profesionalitas saya," tutur dia.
Luhut pun membantah, kunjungannya ke Amerika Serikat kala itu membicarakan kontrak Freeport. Dia berkunjung ke Gedung Putih, kantor Presiden AS, untuk membahas agenda Presiden Jokowi.
"Saya tidak pernah bicarakan itu di AS. Saya murni membicarakan rencana kunjungan presiden ke AS," jelasnya.
Dalam konferensi itu, Luhut juga tak mendukung langkah Sudirman Said melaporkan kasus pencatutan nama presiden dan wakil presiden ke MKD. Bahkan Luhut juga membantah laporan Sudirman Said telah direstui Presiden Jokowi. Luhut seakan nampak menyudutkan Sudirman dalam polemik ini.
Walaupun sudah mendapat dukungan dari Wakil Presiden Jusuf Kalla, namun Sudirman mengakui laporan ke MKD atas inisitif sendiri. Dalam kasus ini semakin menujukkan bahwa Luhut memiliki peran cukup kuat sehingga bisa menekan Sudirman Said.
Banyak pengamat memastikan jikan nanti MKD melengserkan Novanto dari kursi pimpinan DPR, dipastikan juga posisi Luhut akan segera dicopot oleh Presiden Jokowi. *** Budimans.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar