Pages

Jumat, 04 Desember 2015

Sang Jenderal Maroef Sjamsoeddin

Sosok Direktur Utama PT Freeport Maroef Sjamsoeddin jadi sorotan akhir-akhir ini dengan mencuatnya kasus Papa Minta Saham.Transkrip dugaan percakapannya dengan sejumlah politikus beredar. Menteri ESDM Sudirman Said telah melaporkan Ketua DPR Setya Novanto dalam kasus pencatutan nama Presiden Jokowi ini melalui rekaman yang dilakukan Maroef Sjamsoeddin yang berdurasi 120 menit.

Siapa Maroef Sjamsoeddin?

Marsekal Muda TNI (Purn.) Maroef Sjamsoeddin ialah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI Angkatan Udara dari Korps Pasukan Khas yang merupakan lulusan Akademi Angkatan Udara tahun 1980 yang memiliki prestasi cemerlang  sebelum dia menjabat sebagai Dirut Freeport. 

Maroef merupakan adik kandung Wakil Menteri Pertahanan era SBY Letjen (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin. Dia  pernah menjadi atase pertahanan RI di Brasil saat masih berpangkat Kolonel.

Maroef Sjamsoeddin ialah anak dari Sjamsoeddin, seorang purnawirawan berpangkat letnan kolonel, sementara kakaknya adalah Letnan Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin yang merupakan mantan wakil Menteri Pertahanan pada masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono.

Karier Maroef Sjamsoeddin
  • Lahir di Makassar, SMA di Jakarta
  • Alumni AAU 1980: (satu angkatan 40 orang)
  • 1989: Termasuk 15 perwira yang pernah ditugaskan ke Irak, masa perang Iran-Irak.
  • 1992-1995: Asisten Atase Pertahanan Republik Indonesia untuk wilayah Amerika Selatan, yang berkedudukan di Brasil
  • 1996-2000: Letkol Ma’roef Sjamsoeddin, Komandan Skadron 465 Paskhasau
  • 2000-2003: Kembali lagi ke Brasil sebagai Atase Pertahanan, pangkat menjadi kolonel
  • 2004: Kembali ke Indonesia sebagai perwira menengah di BIN.
  • 30 Januari 2007: Promosi sebagai Direktur Kontra Separatisme Deputi III BIN. Pangkat naik menjadi Marsekal Pertama atau bintang satu.
  • 1 Maret 2010: Marsma TNI Maroef Syamsudin MBA dimutasi dari Direktur Kontra Separatisme Deputi III BIN menjadi Sahli Bid Hankam BIN.
  • 26 Juli 2010: Naik pangkat dari Marsma menjadi Marsekal Muda (Marsda) dengan jabatan Staf Ahli Bidang Hankam BIN.
  • 23 Desember 2011: Marsda TNI Ma’roef Sjamsoeddin memperoleh jabatan strategis sebagai Wakil Kepala BIN. Ia menggantikan Dr As’ad Said Ali (NU). Saat menjabat Waka BIN kepala binnya adalah Letjen (purn) Marciano Norman
  • 2014: pensiun dengan jabatan terakhir Waka BIN.
  • 27 Januari 2015: Maroef Sjamsoeddin Ditunjuk PT Freeport Indonesia sebagai Presiden Direktur perusahaan. Ia menggantikan Rozik B Soetjipto, yang akan memasuki masa pensiun.

Seusai pensiun pada 7 Januari 2015, Maroef Sjamsoeddin menjadi Presiden Direktur Freeport Indonesia, menggantikan Rozik B. Soetjipto yang memasuki masa pensiun. Dimana selama karier militernya, Maroef Sjamsoeddin pernah menjabat sebagai Komandan Skadron 465 Paskhas, Atase Pertahanan RI untuk Brasil, Direktur Kontra Separatis BIN, Sahli Hankam BIN dan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) selama periode 2011-2014.

Maroef Sjamsoeddin meraih gelar Master of Business Administration dari Jakarta Institute Management Studies. Dan Ia ditawari langsung menjadi Presdir Freeport Indonesia oleh Chairman of Board Freepor-McMoRan, James Robert Moffett (Jim Bob), usai sebelumnya melihat kinerjanya yang pada saat itu masih menjabat sebagai Wakil Kepala BIN dalam menangani pemogokan di pertambangan Freeport pada tahun 2011.

Pada Desember 2015, Maroef Sjamsoeddin namanya mencuat karena dirinya melakukan rekaman pembicaraannya dengan Ketua DPR Setya Novanto dan pengusaha minyak Reza Chalid. Dimana dalam rekaman tersebut diduga ada pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden. 

Maroef adalah saksi terkait kasus dugaan pencatutan nama Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang diduga melibatkan Ketua DPR Setya Novanto. Pencatutan itu untuk kepentingan pemulusan perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia.

Maroef memegang rekaman sebagai bukti pencatutan tersebut. Telepon genggam yang dijadikan Maroef untuk merekam pembicaraan dirinya dengan Novanto dan pengusaha Muhammad Riza Chalid, kini berada di meja Jampidsus.*** Candra Wibawanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar