Jakarta, Infobreakingnews - "Saya semula tidak berminat mengungkap itu. Bagi saya, yang penting
memagari teman-teman BUMN sendiri," jelasnya.
Ia menegaskan, secara pribadi tak ingin untuk membongkar siapa saja yang
menjadikan BUMN sebagai ’’sapi perah’’, baik yang berasal dari parpol maupun
DPR. Namun, apabila itu diperlukan Dewan, dirinya siap memberikan keterangan
secara jelas.
Soal pemanggilan paksa, Dahlan menjawab santai. “Ya enggak
apa-apa dipanggil paksa tapi kalau diundang ya datanglah,” ujarnya.
Dahlan Iskan bersitegang dengan DPR lantaran pesan pendeknya (SMS) ke Sekretaris Kabinet Dipo Alam. SMS itu menyatakan masih ada oknum di DPR yang kerap meminta jatah pada BUMN. DPR pun meradang dan meminta Dahlan membuktikan ucapannya tersebut.
Dahlan Iskan bersitegang dengan DPR lantaran pesan pendeknya (SMS) ke Sekretaris Kabinet Dipo Alam. SMS itu menyatakan masih ada oknum di DPR yang kerap meminta jatah pada BUMN. DPR pun meradang dan meminta Dahlan membuktikan ucapannya tersebut.
Akan tetapi, tiba-tiba beredar SMS yang
menyebutkan beberapa inisial yang diduga memeras BUMN. SMS ini diklaim
merupakan Humas Kementerian BUMN dengan nomor handphone 0812841514XX yang
isinya menyebutkan inisial-inisial pemeras BUMN.
Ketika dimintai keterang terkait beberapa nama
tersebut, Dahlan enggan menanggapinya. "Tanya saja ke Humasnya, saya
enggak tahu. Namanya SMS, saya juga belum lihat," kata Dahlan di kantor
pusat PNM, Jakarta, Selasa (30/10/2012).
Berikut isi sms yang beredar dari Humas
Kementerian BUMN. "Ini Inisial Anggota DPR RI yang memeras BUMN: AK, IM,
SN, NW, BS (F Golkar) PM, EV, CK (F PDIP) AR, IR, SUR (F PKS) FA (F HANURA)
ALM, NAS, (F PAN) JA, SG, MJ (F PD), MUZ (F GERINDRA). Info: Humas BUMN,"
demikian isi SMS tersebut.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Aria Bima,
mendukung sepenuhnya sikap Menteri BUMN, Dahlan Iskan, yang menyebut BUMN
sering menjadi sapi perah anggota DPR. Hanya saja agar persoalan tidak
melebar dan bias pada institusi DPR ia mendorong Dahlan Iskan untuk
membuka nama-nama anggota DPR yang dimaksud.
"Sebaiknya Dahlan Iskan segera menyebut nama
anggota DPR yang dindikasikan minta jatah tersebut. Sebab jika tidak,
dikhawatirkan persoalan semakin bias dan melebar pada kelembagaan DPR.
Kalau sudah terjadi demikian maka akan menjadi persoalan tersendiri yang lebih
rumit" ujar Aria Bima di sela-sela menghadiri acara peringatan 84
tahun Sumpah Pemuda di Joglo Sriwedari, Solo, Minggu (28/10/2012) malam.
Menurut Politisi PDI Perjuangan tersebut
secara kelembagaan disampaikan Menteri BUMN tentang DPR minta
jatah itu jelas tidak akan mungkin terjadi.
"Saya enam tahun di Komisi VI dan dua tahun
diantaranya menjadi pimpinan. saya tegaskan hal seperti itu tidak ada. Proses
pengambilan keputusan penyertaan modal negara dalam BUMN itu sudah
diatur," lanjut Aria Bima.
Mungkin saja di saat Pemerintah mengusulkan
penyertaan modal itu ada oknum anggota DPR yang melakukan kapitalisasi
menjadi suatu proyek. Langkah itu jelas tidak bisa dibenarkan dan harus
dibongkar bersama.
Wakil Ketua Komisi VI DPR RI ini juga berharap,
kalau pihaknya mengawasi kinerja Pemerintah, termasuk BUMN dan Kementerian
BUMN, jangan lalu dianggap sebagai serangan balik. Sebab DPR harus tetap
mengawasi kemungkinan adanya BUMN melakukan permainan dengan pengusaha,
demikian juga di kementeriannya.***Andi Adrianto

Tidak ada komentar:
Posting Komentar