Solo, Infobreakingnews - Penyerang asal Paraguay,
Diego Mendieta, sebelum meninggal sempat menanyakan gajinya yang belum dibayar Persis Solo,
tetapi ia hanya diberi janji. Demikian diungkapkan teman Diego, Arum.
“Sebelum meninggal, Diego masih menyakan gajinya.
Dia menelpon Pak Totok (Totok Supriyanto, Manajer Persis), namun hanya diberi
janji,” ujar Arum.
Diego mengalami masalah kesehatan, yang belakangan
diketahui karena virus Cytomegalovirus dan jamur Candidiasis, sejak awal
November. Ia sempat dirawat di RSI Yarsis Solo dan PKU Muhammadiyah Solo,
sebelum dibawa ke Rumah Sakit Dr Moewardi Solo (RSDM) pada 27 November 2012. Ia
dirawat di RSDM hingga mengebuskan napas terakhir, pada Selasa (4/12/2012) dini
hari WIB.
Diego masuk-keluar rumah sakit karena tidak punya
biaya untuk berobat hingga tuntas. Hal tersebut terjadi karena belum menerima
gaji dari Persis Solo selama empat bulan. Persis baru memenuhi kewajiban mereka
setelah Diego tutup usia.
Selama sakit hingga meninggal, Diego didampingi
Arum. Menurut Arum, Diego tak mau makan, makanan dari rumah sakit.
“Dia tak mau makan. Paling hanya makan sedikit
pizza atau fried chicken yang dibeli dari luar rumah sakit,” kenang Arum.
Beberapa jam sebelum meninggal, lanjut Arum, Diego
minta sop ayam. Menurut Arum, ia meninggalkan Diego dengan perasaan tak tega,
tak seperti biasanya. Meski begitu, Arum mengaku tetap berusaha mencari sop
ayam.
Namun, Arum
mengatakan, baru makan beberapa sendok, Diego muntah-muntah. Kondisi Diego
disebut Arum semakin memburuk setelah itu sehingga dibawa ke Unit Gawat
Darurat. Hingga nyawanya tak tertolong.
Rabu (5/12/2012) pukul 13.30, jenazah Diego
dipindahkan dari RSDM ke rumah duka Tiong Ting, Solo. Pada pukul Rabu
(5/12/2012) pukul 16.00, jenazah diterbangkan ke Jakarta untuk dipulangkan ke
Paraguay. Penerbangan jenazah dari Jakarta ke Paraguay diurus oleh Kedutaan
Besar Paraguay untuk Indonesia.
Menurut Ketua Umum Harian Badan Olahraga
Profesional Indonesia (BOPI), Haryo Yuniarto, jenazah Diego disemayamkan di
Rumah Sakit Harapan Kita untuk sementara, menunggu penerbangan ke Paraguay. " Jenazah rencananya akan diterbangkan ke negara asalnya Jumat besok
(7/12/2012)," tukas Haryo.
Sementara itu, Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng, kemarin, mengaku, sampai sekarang pihaknya masih menunggu hasil laporan dari BOPI terkait kasus ini. "Tapi yang jelas kita semua berduka dan prihatin. Apalagi ada hak-hak almarhum yang belum dipenuhi," kata Menpora.
Menurut Andi, seharusnya klub
(Persis) bertindak profesional. Karena ini menyangkut olah raga profesional
tentu ada syarat-syaratnya, ada kontrak yang harus dihormati. "Kalau tidak
bisa menghormati atau melaksanakan kontrak, jangan jadi klub profesional, jadi
klub amatir saja main tarkam," kata Menpora.
Berkaitan dengan itu, kata
Menpora, saat ini FIFA sedang memverifikasi klub-klub di Indonesia. Karena,
masih banyak klub yang belum memenuhi standar. "Sekarang ini harus ada
upaya menjadikan klub itu profesional," ujar Menpora.*** Any CJ



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !