Jakarta, Infobreakingnews - Jika pasangan Anda terus mendengkur sepanjang malam, Anda punya alasan untuk pindah kamar: sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa kurang tidur bisa membuat orang kurang merasa bersyukur dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu. Jika Anda tidur cukup tetapi pasangan Anda tidak, Anda tetap saja akan merasa kurang bersyukur dari biasanya di keesokan harinya, khususnya terhadap pasangan Anda.
"Untuk merasa bersyukur dalam hidup diperlukan dua orang yang cukup tidur," kata Amie Gordon, mahasiswi tingkat doktoral pada University of California, Berkeley, dalam pertemuan tahunan Society for Personality and Social Psychology, yang digelar pekan lalu.
Rasa terima kasih adalah salah satu pemantik kebahagiaan, tetapi hanya ada sedikit studi yang meneliti faktr yang menyebabkan seseorang merasa bersyukur.
Gordon dan rekan-rekannya lalu tertarik dengan pengaruh tidur terhadap rasa syukur. Alasannya karena sebagian besar orang mengaku kurang tidur dan tidak merasa bahagia.
Dalam penelitian pertama mereka melibatkan 56 pelajar yang diminta untuk melaporkan kuantitas serta kualitas tidur di malam sebelumnya.
Langkah berikutnya para peneliti membagi para pelajar itu dalam dua kelompok. Kelompok pertama diminta menulis lima hal yang paling mereka syukuri dalam hidup mereka.
Kelompok kedua, diminta menulis lima hal, apa saja, yang terjadi dalam hidup mereka dalam waktu-waktu terakhir.
Semua sukarelawan dalam penelitian itu lalu diminta menjawab pertanyaan tentang betapa bersyukur dan berterimakasihnya mereka dalam hidup mereka.
Hasilnya ditemukan bahwa kelompok pertama adalah mereka yang merasa paling bersyukur dalam hidup. Tetapi ini tidak berlaku bagi mereka yang kurang tidur di malam sebelumnya. Mahasiswa dari kelompok pertama yang mengalami kurang tidur tetap saja merasa kurang bersyukur ketimbang mahasiswa dari kelompok kedua.
Gordon dan timnya lalu menggelar penelitian kedua yang melibatkan sekelompok sukarelawan lain. Kelompok sukarelawan ini diminta untuk mencatat aktivitas tidur mereka dalam dua pekan sekaligus mencatat rasa syukur mereka setiap hari.
Hasilnya ditemukan bahwa semakin kurang tidur seseorang, maka semakin tidak bersyukur dan egois orang itu di hari berikutnya.
Gordon lalu menggelar studi ketiga, yang melibatkan rasa cinta. Mereka mengundang 71 pasangan heteroseksual dan meminta mereka mencatat catatan tidur serta perasaan mereka terhadap pasangan masing-masing setiap hari.
Hasilnya ditemukan bahwa baik lelaki dan perempuan yang merasa tidak bersyukur atas pasangan mereka, sebelumnya melewati tidur malam yang tidak memuaskan.
Bahkan jika satu pihak dari satu pasangan bisa tidur pulas sementara yang lain tidak, ia tetap saja akan merasa tidak bersyukur.
Temuan itu menekankan rasa syukur sebagai "perekat sosial" yang merawat hubungan agar tetap terjaga.*** Source


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !