Vatikan, Infobreakingnews - Bursa awal tak resmi calon pengganti Paus Benediktus XVI - yang secara mengejutkan mengumumkan rencana pengunduran diri - ternyata didominasi oleh para Kardinal dari negara-negara berkembang, sehingga ada kemungkinan Paus berikut bukan berasal dari Eropa untuk pertama kalinya sejak abad ke-11.
Bahkan bisa jadi komunitas Katolik dunia akan dipimpin pertama kalinya dalam sejarah oleh Paus kulit hitam, dengan banyak disebutnya nama Kardinal Peter Turkson dari Ghana dan Kardinal Francis Arinze dari Nigeria.
Beberapa kandidat lain yang potensial namun belum resmi sifatnya berasal dari Kanada, Honduras dan negara-negara Amerika Latin lainnya.
Karena pemilihan Paus oleh Persekutuan Kardinal sangat rahasia sifatnya, keputusan mereka nanti akan sangat sulit ditebak. Sebagai contoh, dulu Paus Johannes Paulus II muncul belakangan dalam proses pemilihan namun dia langsung meroket dan tepilih.
Dua pejabat senior di Vatikan sudah mengindikasikan kalau Paus berikut mungkin tidak berasal dari benua Eropa.
“Akan bagus jika ada kandidat dari Afrika atau Amerika Selatan di pemilihan berikut,” kata Kurt Koch, Kardinal asal Swiss, seperti dikutip The Telegraph. Ketika ditanya apa dirinya akan lebih memilih calon non Eropa, dia menjawab: “Ya.”
“Saya kenal banyak Uskup dan Kardinal dari Amerika Latin yang bisa memimpin gereja universal,” kata Uskup Agung Gerhard Mueller, yang menjabat di Vatikan sebagai kepala Jemaat Doktrin Keimanan, yang dulu dipegang oleh Benediktus.
Turkson yang asal Ghana saat ini adalah presiden Dewan Kepausan bidang Keadilan dan Perdamian. Dia dianggap sebagai orang yang sangat ahli berkomunikasi dan umurnya yang baru 64 tahun membuatnya sebagai calon potensial, karena alasan Paus Benediktus untuk mundur adalah usianya yang sudah sangat uzur.
Arinze yang asal Nigeria sudah berumur 80 tahun, namun karena keputusan Benedict sangat mendadak, dia bisa menjadi pilihan yang aman karena kematangannya. Tambahan pula, Arinze juga masuk bursa pada pemilihan 2005 yang akhirnya dimenangi Benedict.
Dua orang Afrika itu beraliran orthodox yang bisa menyenangkan kelompok konservatif, dan latar belakang mereka dari negara berkembang mungkin disukai oleh banyak orang dari kelompok liberal.
“Tebakanku adalah mereka akan mencari sesuatu yang berbeda,” kata Lord Alton dari kelompok liberal.
“Saya pribadi terkesan dengan orang-orang seperti Turkson. Ini akan menjadi keputusan yang berani tapi mereka kadang-kadang mau mengambil resiko.”
Kardinal Marc Ouellet dari Quebec, Kanada, juga disebut sebagai calon kuat untuk mengakhiri kepemimpinan Eropa/Mediterania selama 2.000 tahun.
Dia menguasai beberapa bahasa dan selama bertahun-tahun bekerja sebagai misionaris di Amerika Selatan.
Sekitar setengah dari Kardinal yang punya hak suara berasal dari Eropa, meskipun benua itu hanya dihuni seperempat dari 1,2 miliar umat Katholik di seluruh dunia.
Kalau Persekutuan Kardinal ingin main aman dan memilih calon dari benua itu, maka Kardinal Angelo Scola dari Milan, Italia, adalah kandidat terkuat.
Kalau sekarang giliran Amerika Latin, beberapa nama sudah mengemuka termasuk Leonardo Sandri dari Argentina, kepala departemen Gereja Timur di Vatikan; Kardinal Oscar Maradiaga dari Honduras; Uskup Agung Odilo Scherer dari Brasil; dan rekan senegaranya Joao Braz de Aviz yang baru berumur 65 tahun.
Pus Johannes Paulus II asal Polandia adalah Paus non-Italia pertama sejak 1523, sedangkan Benediktus XVI adalah orang Jerman pertama yang memegang amanah ini. *** Source



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !