Pages

Rabu, 19 Juni 2013

Sebelum Ke Persidangan, BCA Akui System ATM nya Banyak Gangguan

Jakarta, infobreakingnews - Selesai mengikuti sidang pada Senin 17 Juni 2013, pihak penggugat, Kemala Atmojo, tak kuasa menyembunyikan keheranannya. Kepada Infobreakingnews.com,  Kemala menuturkan, “Saya benar-benar tak habis pikir, kenapa BCA memaksakan diri untuk mencari pembenaran bukti-buktinya yang sudah jelas salah.”

Selanjutnya, menurut Kemala, wartawan senior, “Ini kan sebenarnya soal kejujuran saja. Di kantor BCA kan mestinya ada rekaman yang benar, yang sesungguhnya, yang jelas-jelas menunjukkan bukti bahwa saya tidak mengambil uang dari transaksi yang gagal itu. Kenapa nggak lihat itu saja dan mengakui? Minta maaf kepada saya? Selesai kan urusannya dengan saya, apalagi saya sadar betul kalau resiko dipersidangan ini , pasti mmakan waktu yang panjang dan saya banyak harus membagi konentrasi pada aktivitas sebagai seorang jurnalis di Ibukota ini." ungkap Kemala seakan merenungi kronologis perkara nya dengan BCA, yang mana akhirnya Kemala tertantang karena sudah menyangkut pada harga diri.

Kasus BCA ini sebelumnya, yang nilainya lebih besar saja saya maafkan. Lha, sekarang ini malah menyodorkan rekaman seakan saya mengambil uang dari transaksi gagal itu dan menempelkan kertas struk di rekaman , hal ini yang membuat saya ga bisa berdiam diri," ungkap Kemala


Dengan diberi rekaman yang tidak menunjukkan kejadian sebenarnya, Kemala Atmojo benar-benar tersinggung. “Berpuluh tahun saya menjaga integritas saya, sekarang dengan enteng saja mau dihancurkan BCA. Tentu saya keberatan. Selain telah menista saya, BCA sudah breaking the law (melanggar hukum) dan melompati batas etika bisnis,” katanya.  

Dan derita yang diakibatkan oleh tindakan BCA ini, terutama psikis, sungguh menyakitkan. “Kerugian materialnya mungkin tak seberapa, tetapi kerugian immaterialnya sungguh tak terkira, karena saya diangggap sebagai pihak yang salah” katanya. “Karena itu, jika BCA tidak ingin menanggung derita yang sama, sebaiknya BCA segera menyelesaikan masalah ini dengan baik dan benar. Saya sedang berpikir untuk membawa kasus ini ke DPR dan membuat buku , dengan pengalamanan pahit banyak nasabah BCA yang mengalami hal yang sama."

Sebagai penabung yang sangat aktif, Kemala tahu persis bahwa saldo uangnya sebelum pengambilan tunai di ATM itu tidak sampai Rp. 2,5 juta. “Karena sebelum libur Lebaran 2012 itu saya sudah menyelesaikan semua kewajiban saya, termasuk membayar THR karyawan. Dengan demikian saldo saya di BCA tidak banyak tersisa  lagi.”

Lalu, untuk keperluan membeli bensin pada 13/8/2012 itu, Kemala bermaksud mengambil uang Rp. 1,250.000,- dari saldo yang tinggal sekitar Rp. 2,4 juta itu. Ternyata ATM mengalami gangguan. Dan ia segera pindah ke ATM sebelahnya. Berhasil. “Kalau dari ATM pertama saya sudah berhasil, untuk apa saya pindah ke ATM di sebelahnya? Pertama, kedua ATM itu berisi pecahan yang sama, lima puluh ribuan. Kedua, saldo saya pasti tidak cukup,” kata Kemala Atmojo.  Artinya, pada hari itu, 13 Agustus 2012, hanya satu kali transaksi yang berhasil. Dan itulah yang tercermin dalam buku tabungannya.

Belakangan, BCA bersikukuh mengatakan bahwa transaksi pertama itu juga berhasil Dan inilah yang menjadi salah satu pokok perkara. Anehnya, dalam beberapa jawaban tertulis BCA mnegakui adanya gangguan, namun dalam persidangan BCA selalu mengatakan bahwa transaksi itu semuanya berjalan normal.

“Katakanlah ada gangguan. Yang pasti, saya tidak berhasil mengambil uang dari transaksi pertama. Kedua, gangguan itu tanggung jawab siapa?” kata Kemala. “Setahu saya, tidak ada satu pasal pun dalam undang-undang apapaun di negara manapun  yang memberikan hak kepada bank untuk mengalihkan tanggung jawab kesalahan atau gangguan teknologinya kepada nasabah!” ungkap pria berkacamata ini.

Kini semua sudah berjalan pada proses hukum persidangan yang dipimpin Hakim Purnomo di Pengadilan Negeri jakarta Pusat, bagaimanapun banyak nasabah yang selama ini merasakan hal yang sama dengan Kemala, akan menjadikan pembelajaran yang berharga bagi pihak BCA agar jangan terlalu arogan pada nasabahnya. Tidak ada yang mustahil,  walau BCA merupakan Bank terbesar dinegeri ini, tapi bilamana kasus yang sama terus  terulang kembali pada banyak penggugat, maka tak mustahil " rush " bisa terjadi pada BCA, karena nasabahnya pada minggat meninggalkan BCA, yang merupakan Bank Capek Antri, karena selalu panjang antrian di setiap ATM, membuat publik jenuh, dan pindah ke Bank milik pemerintah yang kini sudah lebih mapan managemen dan tehnologi sistem bangking nya.***MIL



Tidak ada komentar:

Posting Komentar