Pages

Selasa, 29 Oktober 2013

Konyol, Petinggi Ombudsman Lakukan Penamparan

Korban Yana Novia Yang Ditampar
Jakarta, infobreakingnews - Dunia hukum di negeri ini sudah semakin gila carut marutnya, terlalu banyak petinggi hukum yang justru melanggar hukum. Belum selesai dengan guncang ganjing ketua MK non aktip Akil yang tertangkap tangan oleh KPK, kini justru penyimpangan prilaku yang dilakukan seorang petinggi Ombudsman, Azlaini, yang juga sekaligus sebagai dosen pengajar Fak. Hukum di sebuah Universitas di Riau itu melakukan penamparan terhadap seorang staf maskapai penerbangan Garuda di  Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru kepada komisionernya Azlaini Agus. Staf maskapai Garuda Indonesia melaporkan Azlaini karena melakukan penamparan,Selasa, (29/10/2013).


Yana Novia yang jadi korban penamparan melapor ke Mapolsek Bukit Raya Pekanbaru. Pelapor juga menyertakan bukti foto yang menunjukkan guratan merah bekas tamparan Azlaini yang juga dosen ilmu hukum Universitas Islam Riau.

Penamparan ini terjadi ketika Azlaini berada di lintasan bandara saat akan menaiki pesawat. Diduga dia kesal karena mendadak pihak maskapai mengumumkan penundaan keberangkatan ke Bandara Kuala Namu, Medan. 

Pesawat yang sedianya berangkat pukul 07.45 WIB ditunda hingga pukul 08.20 WIB. "Kami harus tunda keberangkatan karena menunggu kepastian cuaca terkait aktifnya Gunung Sinabung," papar Kepala Stasiun Garuda di Pekanbaru Irawan menjelaskan alasan penundaan keberangkatan.

Prilaku Azlaini yang sesungguhnya merupakan orang hukum dan menjadi petinggi di Ombudsman, dinilai banyak pihak sebagai bentuk arogansi seorang petinggi hukum yang bermental tempe dan sudah semestinya dipecat dengan tidak hormat dari lembaga terhormat itu, Polisi harus berani segera memeriksanya dan ajukan kasus penamparan ini sampai kemeja persidangan, agar menjadi kapok dan sekaligus contoh teguran keras kepada aparat hukum lainnya. Demikian saran dan ungkapan Jhonson Panjaitan, praktisi hukum yang banyak mengkritisi prilaku oknum penegak hukum secara keras, ketika dimintai pendapatnya di Jakarta.***Jerry Aritonang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar