Headlines News :
Home » » Akibat Longsor di Kudus dan Manado, Puluhan Warga Tewas Tertimbun

Akibat Longsor di Kudus dan Manado, Puluhan Warga Tewas Tertimbun

Written By Unknown on Kamis, 23 Januari 2014 | 12.07

Kudus, infobreakingnews Bencana tanah longsor di Dukuh Kembangan, Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, merenggut nyawa 12 orang pada Rabu (22/1) dini hari. Musibah itu kali kedua dalam sepekan terakhir setelah sebelumnya banjir dan tanah longsor terjadi di beberapa lokasi di Provinsi Sulawesi Utara yang menewaskan 19 jiwa.

Kepala Urusan Kesra Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Suroso, di tempat kejadian, Rabu kemarin, mengatakan, dari dua belas korban meninggal dunia, mula-mula satu orang yang berhasil ditemukan yakni Ny Musripan (50).
Sedangkan 11 korban lainnya yang tertimbun tanah longsor ialah Sowondo dan istri, Tarmuji dan istri, Asrori bersama istri dan anaknya, serta Mursidi bersama istri dan dua anaknya, baru ditemukan kemudian.

"Warga bekerja ekstra keras melakukan pencarian belasan korban yang masih tertimbun tanah longsor dengan alat seadanya," katanya.
Korban meninggal yang sudah ditemukan langsung dimakamkan di tempat pemakaman umum desa setempat. Dia mengatakan, longsor yang terjadi di Dukuh Gebog mengakibatkan belasan rumah yang tersebar di sembilan rukun tetangga (RT) di wilayah RW 02 tersebut terkena dampak longsor, bahkan lima rumah di antaranya tertimbun longsor.

Selain menewaskan belasan orang, katanya, tanah longsor juga sebelumnya terjadi sekitar pukul 18.30 WIB di wilayah yang sama, tetapi di bagian bawah menimpa satu rumah dan dua rumah rusak.

"Tidak ada korban jiwa pada longsor pertama karena warga sebelumnya mendengar suara gemuruh sehingga sempat menyelamatkan diri," katanya. Akibat tanah longsor itu, akses jalan menuju ke lokasi tidak bisa dilewati karena tertimbun tanah cukup tinggi.
Sementara itu, hingga Rabu (22/1), jumlah korban tewas akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sulawesi Utara mencapai 19 orang. Perinciannya, di Manado 6 tewas, di Tomohon 6 tewas, di Minahasa 6 tewas, dan di Minahasa Utara 1 tewas.
Dampak bencana di Kota Manado dirasakan oleh 85.831 jiwa atau 23.204 KK. Kerusakan rumah 10.844 unit dan bencana tanah longsor dialami 110 jiwa (20 KK) dengan kerusakan delapan unit rumah.

Terdampak tanah longsor di Minahasa mengungsi 536 KK (2.091 jiwa), rumah hanyut 59, tertimbun 14, RB 59, RS 183, terendam 484. Pencarian korban di Tinoor dihentikan. Saat ini sedang dilakukan uji coba penggunaan Jembatan Bailey di dua titik longsor pada Jalan Manado-Tomohon.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut meminta pengiriman kaus lengan panjang Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lagi sekitar 1.500 buah untuk para petugas lapangan. BNPB pun mengusulkan pengiriman bantuan berupa perlengkapan masak keluarga dan penambahan paket kesehatan keluarga serta family kit.

Sementara itu, 12 orang meninggal dunia dan 62.819 jiwa mengungsi akibat banjir di Jakarta dalam tujuh hari terakhir. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, hingga saat ini banjir masih menggenangi beberapa wilayah di Ibu Kota. Namun, semua sungai mengalami penurunan debit sehingga banjir mulai surut karena tidak ada hujan di Jakarta dan kawasan hulu.

Berdasarkan pendataan Pusdalops BPBD DKI, dampak banjir Jakarta sejak Selasa (14/1) hingga Selasa (21/1), jumlah terdampak di 34 kecamatan, 100 kelurahan, 444 RW, 1.227 RT, 38.672 KK, dan 134.662 jiwa. Jumlah pengungsi 62.819 jiwa di 253 titik. Korban jiwa 12 orang meninggal dunia, baik terdampak langsung maupun tidak langsung.

Sutopo menambahkan, dibandingkan dengan banjir pada Januari 2013, banjir Januari 2014 hingga kini lebih kecil dampaknya. Pada Januari 2013 banjir menyebabkan 83.930 jiwa mengungsi di 307 titik. Kebutuhan mendesak untuk warga korban banjir di antaranya mobil toilet (untuk daerah yang sulit terjangkau, seperti di Cakung Timur), selimut, makanan siap saji, air mineral dan air bersih.
Tren bencana banjir dan longsor di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Pada 2003 ada 266 kejadian banjir dan longsor, sedangkan pada 2013 ada 822 kejadian. Dalam 11 tahun terakhir bencana banjir dan longsor terbanyak pada 2010 yaitu 1.433 kejadian.

Total bencana banjir dan longsor (bansor) selama 2003-2013 sebanyak 6.288 kejadian atau 572 per tahunnya. Dampak yang ditimbulkan akibat banjir dan longsor juga cukup besar.

"Total korban tewas selama 2003-2013 ada 5.650 jiwa atau rata-rata 514 jiwa tewas per tahunnya. Sebanyak 1,5 juta jiwa rata-rata mengungsi dan menderita," kata Sutopo dalam surat elektronik yang diterima Suara Karya kemarin.

Menurut Sutopo, sesungguhnya bencana longsor adalah akibat dari semua faktor penyebabnya. Faktor antropogenik lebih dominan jika dibandingkan dengan faktor alam.
Pola hujan memang telah berubah makin tinggi intensitasnya. "Tapi bertambahnya jumlah penduduk, urbanisasi, konversi lahan, rendahnya kesadaran membuang sampah, tata ruang, minimnya konservasi tanah dan air dan lainnya menjadi penyumbang utama meningkatnya kerentanan banjir," ujar Sutopo.

Hal itu tecermin dari daerah aliran sungai (DAS) yang kritis di Indonesia. Disebutkan, ada sekitar 68 DAS kritis. Daya dukung lahan yang sudah terlampaui di antaranya Jawa sejak 2006. Degradasi hutan masih cukup tinggi. Di Indonesia pada 2008 tutupan hutan 49,4 persen lalu pada 2012 menjadi 47,7 persen. Di Jawa hutan hanya ada sekitar 16,1 persen, padahal idealnya 30 persen dari luas keseluruhan.***Rachmadi Wibisono.


 
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Featured Advertisement

Featured Video

Berita Terpopuler

 
Copyright © 2012. Berita Investigasi, Kriminal dan Hukum Media Online Digital Life - All Rights Reserved