Jakarta, Info Breaking News - Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi menguat pada perdagangan Selasa (16/6/2026).
Optimisme pasar didorong oleh meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang sebelumnya mengguncang pasar global.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bergerak di kisaran Rp17.650 hingga Rp17.700 per dolar AS.
"Untuk perdagangan Selasa, 16 Juni 2026, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat di rentang Rp17.650-Rp17.700," kata Ibrahim.
Rupiah Menguat Tajam
Sebelumnya, pada perdagangan Senin (15/6/2026), rupiah ditutup menguat 151 poin ke level Rp17.708 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.860. Sepanjang perdagangan, rupiah bahkan sempat menguat hingga 185 poin.
"Pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, mata uang rupiah ditutup menguat tajam 151 point sebelumnya sempat menguat 185 point di level Rp17.708 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.860," ujar dia.
Menurut Ibrahim, penguatan rupiah dipicu oleh pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Wakil Menteri Luar Negeri Iran yang menyebut kedua negara telah mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri perang serta membuka kembali jalur pelayaran melalui Selat Hormuz.
Trump juga menyampaikan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka tanpa biaya dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan dihentikan. Kabar tersebut menurunkan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan perdagangan global dan pasokan minyak mentah.
Faktor Domestik Turut Mendukung
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai penurunan harga minyak mentah dunia ke bawah US$80 per barel menjadi sentimen positif bagi perekonomian nasional. Harga minyak yang lebih rendah dinilai dapat mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya untuk subsidi energi.
Pasar juga mencermati langkah efisiensi anggaran pemerintah, termasuk evaluasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan penyesuaian target pembangunan Koperasi Desa Merah Putih yang dikabarkan akan dipangkas hingga 50 persen.
Selain itu, stabilnya kondisi global dinilai meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap rupiah. Ibrahim menilai sebagian masyarakat mulai mengurangi kepemilikan dolar AS dan beralih kembali ke mata uang domestik.
Perkembangan tersebut sejalan dengan imbauan Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, yang meminta masyarakat menukarkan dolar AS ke rupiah guna membantu menjaga stabilitas nilai tukar.
Pasar Menanti Keputusan Bank Indonesia
Perhatian pelaku pasar kini tertuju pada pertemuan kebijakan Bank Indonesia yang akan berlangsung pekan ini. Sebelumnya, pada 9 Juni 2026, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Dengan kenaikan tersebut, total pengetatan suku bunga sejak Mei 2026 telah mencapai 75 basis poin.
Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah ketidakpastian global sekaligus menahan potensi arus keluar modal asing.
"Langkah pre-emptive ini dioptimalkan untuk melindungi nilai tukar rupiah dari gejolak global dan menahan keluarnya arus modal asing (capital outflow)," pungkasnya. ***Jeremy



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !