![]() |
| Menteri BUMN Dahlan Iskan bersama Dirut PLN Nur Pamudji |
Jakarta, infobreakingnews - Dalam rapat dengan Anggota DPR Komisi VI di Senayan, Direktur Utama PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) Tbk, Nur Pamudji, menegaskan, upaya elektrifikasi kerja sama dengan Papua Nugini hanya sebatas wilayah perbatasan saja. Sehingga ekspor listrik yang dikritik publik itu tidak sampai memasok kebutuhan listrik wilayah dalam dari negara yang berbatasan dengan Provinsi Papua itu.
"Ya makanya itu sangat spesifik, itu di Jayapura saja. Seberang perbatasan dari Jayapura, cuma di situ saja. Itu ada kampung-kampung kecil yang mereka belum ada listriknya. Jadi kalau sisi Indonesianya sudah terang ya kampung sebelahnya juga ikut terang, enggak sampai ke Papua Nugini, nggak. Perbatasan saja, jaringan kecil pendek yang pakai tiang beton, itu saja," jelas Nur usai rapat dengan Komisi VI DPR RI, Jakarta, Rabu (19/6).
Dalam proyek tersebut, Nur mengatakan PLN akan menyalurkan listrik sekitar 2 megawatt ke kampung-kampung di wilayah perbatasan Indonesia-Papua Nugini. Dengan penyaluran tersebut, sekitar 4.000 rumah sederhana bisa menikmati fasilitas listrik.
"Kalau angkanya itu 2 megawatt. 0,5 kilowatt itu satu rumah sederhana, 1 kilowatt itu 2 rumah, jadi 4.000 rumah kira-kira. Sedikit," ungkapnya.
Dari sisi investasi, Nur mengaku belum melakukan perhitungan dikarenakan kontrak yang belum ditandatangani dengan pemerintah Papua Nugini. Sehingga ekspor listrik ini baru sebatas penjajagan awal.
"Belum teken kok kita nanti kalau dah jadi, baru bisa dihitung," tutup Nur.
Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan, mengatakan penyaluran atau penjualan listrik ke Papua Nugini dilakukan kebetulan saja. Karena berbarengan dengan rencana PLN yang mengembangkan pembangkit di daerah perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini.
Dia menyatakan pembangkit itu pasti akan menciptakan kelebihan produksi listrik. Daripada mubazir, maka sebagian akan disalurkan ke kampung-kampung wilayah Papua Nugini yang kebetulan berlokasi dekat pembangkit.
"Kelebihan listrik satu tempat pindah ke tempat lain memang bisa diangkut? Kecuali diangkut pakai karung. Jadinya ya begitu (disalurkan)," kata Dahlan menjawab kritikan sambil berkelakar.
Dari catatan Dahlan, PLN di Jayapura membangun pembangkit listrik 2x10 MW serta Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 1x10 MW. Sesuai jadwal, Komisikhir tahun ini, kedua sumber listrik itu selesai dibangun.
"Nanti kita sepakati dari PLTU ke perbatasan 20 Kilometer. Dari perbatasan ke Papua Nugini cuma 10 kilometer. Kita akan listriki kota terdekat dari perbatasan 1 kota dan sekitarnya," ungkap mantan Dirut PLN itu.
Rencana ekspor listrik itu sempat mengejutkan publik. Pasalnya dari 240 juta penduduk Indonesia, 82 juta diantaranya belum mendapat akses kelistrikan. PLN pun mengakui hingga 2013, rasio elektrifikasi baru 76 persen dari total populasi di Tanah Air. Hal ini menjadi salah satu alasan Komisi VI DPR RI memanggil Dahlan dan Dirut PLN, Nur Pamudji.***MIL

Tidak ada komentar:
Posting Komentar