Jakarta, infobreakingnews - Permasalahan baru muncul setelah banjir menyurut. Rusaknya jalan dan putusnya jembatan sebagai dampak dari banjir beberapa waktu lalu, kini merintangi dan menghambat pasokan bahan baku ke pusat-pusat industri di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
"Jalan rusak sesudah tergenang banjir dan jembatan putus mengganggu distribusi ke pusat-pusat industri. Hal tersebut menimbulkan masalah yang lebih berat daripada saat banjir itu sendiri," kata Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, kemarin.
Menurut Bayu, bila ketika terjadi banjir beberapa waktu lalu mengakibatkan tertundanya distribusi barang antara 6 hingga 24 jam, maka kini lebih parah lagi, kerusakan jalan dan putusnya jembatan menyebabkan penundaan distribusi antara 12 hingga 36 jam. Bahkan, lebih jauh lagi distribusi menjadi terhalang.
Banyak pabrik-pabrik, lanjut Bayu, yang mempunyai stok bahan baku minimum untuk efisiensi. Namun, dengan adanya gangguan pascabanjir ini, banyak pelaku usaha mulai mengeluh karena kesulitan untuk mendatangkan bahan baku."Kami terus melihat keadaan itu, dan Kementerian Pekerjaan Umum akan bekerja maksimal untuk segera memperbaiki jalan rusak dan juga jembatan yang terputus akibat banjir," kata Bayu, yang juga mengatakan bahwa beberapa wilayah yang mengalami gangguan tersebut antara lain di wilayah pantura, yakni tol Jakarta-Merak, Pamanukan, Ku-dus, dan Jabodetabek.
Menyangkut persediaan kebutuhan pokok, dia menyebutkan, saat ini memang mengalami penurunan pasokan, tetapi bukan berarti putus secara total."Bagi Jawa Barat, pasokan sebagian beralih melalui jalur tengah, dan menambah waktu tempuh untuk distribusi menyentuh waktu antara 10 hingga 12 jam." ujar Bayu.Melalui pengamatan Kementerian Perdagangan belum lama ini, khususnya untuk pasokan bahan pokok berupa beras di Pasar Induk Beras Cipinang, jumlahnya masih memadai untuk jangka waktu 11 hingga 12 hari ke depan, sekalipun selama beberapa hari ini mengalami penurunan pasokan.
Kendala pasokan itu sebagai dampak dari gangguan distribusi di Karawang-Cirebon yang menurunkan pasokan dari sekitar 3.000 ton per hari menjadi kurang lebih 2.100 ton.Sebab, pantura Indramayu melewati Eretan Kandanghaur mengarah Subang masih terputus oleh banjir, dan menyebabkan arus kendaraan bermotor di jalur tengah Cikamurang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, arah Subang padat, yang berakibat terhambatnya pasokan beras ke Ibu Kota.Banjir tidak cuma terjadi di Jakarta, beberapa kabupaten kota seperti Tangerang, Karawang, Subang, Indramayu, Pemalang, Pekalongan, Semarang, Kudus, dan wilayah lainnya di Indonesia secara serentak juga mengalaminya.
Harga Meroket
Sementara itu, akibat kurang lancarnya distribusi karena genangan banjir, harga kebutuhan pokok di Belitung, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, mulai melambung tinggi. "Harga beras, gula, minyak goreng, daging ayam, daging sapi, dan telur ayam serta sayur mayur mulai naik tajam," kata Pepen, salah seorang pedagang sembako di Manggar, Jumat.
Harga daging sapi yang di Pasar Gantung, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, kini menyentuh harga jual tertinggi, yaitu Rp 135.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 110.000.Demikian juga harga daging ayam yang naik dari Rp 29.000 menjadi Rp 40.000 per kg, sedangkan harga telur ayam mengalami kenaikan hampir 100 persen dari harga semula Rp 45.000 per papan.
Sementara harga cabai yang biasanya Rp 60.000 per kg, kini menjadi Rp90.000, setelah sempat mencapai Rp 100.000 per kg. Harga tomat juga mengalami kenaikan tajam dari Rp 23.000 per kg menjadi Rp 52.000 per kg, sementara bawang merah naik dari Rp 21.000 per kg menjadi Rp 43.000 per kg.
Di tempat terpisah, pedagang di Pasar Bawah Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, mengatakan, kenaikan harga terjadi pada hampir semua komoditas, mulai dari beras, daging sapi, hingga ke sayur-mayur, yang merupakan imbas dari cuaca buruk yang melanda wilayah perairan daerah itu.Menurut Muslim, salah seorang pedagang, kenaikan harga sangat merugikan pedagang maupun pembeli. Kenaikan harga membuat omzet pedagang berkurang karena pembeli makin mengurangi jumlah barang yang mereka beli. "Untuk itu, diharapkan pemerintah daerah segera mencarikan solusi agar kebutuhan utama masyarakat tetap lancar," katanya.
Di tempat lain, untuk menanggulangi masalah distribusi ini, Bulog Sulawesi Tengah menjamin stok yang ada cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk mengantisipasi keperluan bencana alam di daerah itu.Kepala Perum Bulog Sulteng Damin Hartono, di Palu, Jumat, mengatakan, selain menyediakan stok beras untuk masyarakat miskin, pihaknya juga menyiapkan bagi korban bencana alam. "Soal persediaan beras tidak ada masalah karena stok yang ada cukup memadai," katanya.
Bulog Sulteng hingga kini masih memiliki stok beras tersebar di sejumlah gudang di kabupaten/kota di daerah ini sebanyak 26.000 ton. Jika diperhitungkan dengan kebutuhan penyaluran selama 2014, stok beras yang ada di gudang Bulog saat ini cukup untuk kebutuhan selama delapan bulan ke depan.Menurut dia, tidak ada alasan kekhawatiran kekurangan kebutuhan pokok dimaksud karena stok yang ada akan mencukupi. Ia mengaku pengadaan beras selama Januari 2014 masih seret.
Seretnya pengadaan beras di provinsi yang terletak di jantung Pulau Sulawesi itu dikarenakan panen belum tiba. Panen raya di Sulteng untuk musim tanam (MT) ini diperkirakan baru akan berlangsung akhir Maret dan awal April 2014.Kalaupun Bulog membeli beras pada priode Januari 2014, itu berarti beras yang dibeli dari petani merupakan hasil panen 2013. Bulog Sulteng baru membeli beras petani sebanyak 20 ton dari target pengadaan selama Januari 2014 sebanyak 70 ton.
Pembelian beras sebanyak itu seluruhnya di Kabupaten Banggai, yang merupakan salah satu sentra produksi beras di Provinsi Sulawesi Tengah. ***Petra.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !