![]() |
| PM Israel Benjamin Netanyahu dan Aktris Gal Gadot |
Tel Aviv, Info Breaking News
– Aktris Hollywood pemeran karakter Wonder Woman, Gal Gadot, baru-baru ini
terlibat dalam perseteruan dengan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin
Netanyahu terkait dengan status minoritas Arab di Israel.
"Cintailah
sesamamu seperti dirimu sendiri," ungkap Gal Gadot, seperti dikutip BBC
(12/3/2019), menanggapi perselisihan tentang peran partai-partai Arab Israel
dalam gelaran pemilu mendatang.
Pertikaian
antara Gal Gadot dengan Netanyahu awalnya bermula pada hari Sabtu lalu, ketika aktris
dan presenter televisi Israel Rotem Sela menantang peryataan Menteri
Kebudayaan Miri Regev tentang peran partai-partai Arab dalam pemilu 9 April.
Regev diketahui mengulangi peringatan dari partai sayap kanannya dan partai Likud pimpinan
Netanyahu bahwa pemilih tidak boleh memilih saingan utamanya karena mereka
mungkin membentuk koalisi pemerintahan yang mencakup anggota parlemen Arab.
"Apa masalah dengan
orang Arab?" tanya Sela melalui “story” di akun Instagramnya.
"Kapan seseorang dalam
pemerintahan ini akan menyampaikan kepada publik bahwa Israel adalah negara
dari semua warganya, dan bahwa semua orang diciptakan sama, dan bahwa bahkan
orang Arab dan Druze dan LGBT dan kaum kiri adalah manusia,” imbuh dia.
Komentar tersebut lalu
disambut baik oleh Gal Gadot, yang tak lain adalah teman dekat Sela.
"Ini bukan masalah
kanan atau kiri. Yahudi atau Arab. Sekuler atau religius," tulis Gadot
kepada 28,3 juta pengikutnya di Instagram.
"Ini masalah dialog
untuk perdamaian, kesetaraan, dan toleransi antara kita semua," lanjutnya.
Menanggapi
Gal Gadot, hari Minggu PM Netanyahu pun mengunggah sebuah pernyataan di akun
Instagramnya dengan merujuk istilah “negara-bangsa”.
"Israel
bukan negara dari semua warganya. Menurut hukum kewarganegaraan dasar yang kami
lalui, Israel adalah negara-bangsa orang-orang Yahudi, hanya itu."
"Seperti yang Anda
tulis, tidak ada masalah dengan warga Arab Israel. Mereka memiliki hak yang
sama seperti kita semua, dan pemerintah Likud telah berinvestasi lebih banyak
di sektor Arab daripada pemerintah lain," tambahnya.
Menurut kantor berita AFP,
Netanyahu kemudian mengemukakan masalah ini pada rapat kabinet.
Dia menyebut Israel
"negara Yahudi dan demokratis" dengan hak yang sama, tetapi
"negara bangsa bukan dari semua warganya, tetapi hanya orang-orang
Yahudi".
Sementara itu, bangsa Arab
Israel, keturunan dari 160.000 warga Palestina yang tersisa setelah Negara
Israel dibentuk pada 1948, telah lama mengeluh diperlakukan sebagai warga
negara kelas dua.
Mereka mengatakan mereka
menghadapi diskriminasi dan ketentuan yang lebih buruk daripada orang Yahudi
Israel dalam hal layanan seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan.
PM
Israel Sempat Memicu Kehebohan
Diketahui, PM Netanyahu sebelumnya sempat memicu kehebohan
ketika dia mengatakan Israel "bukan negara dari seluruh warganya".
Hal tersebut merujuk pada orang-orang Arab yang menempati 20 persen total
populasinya.
Dalam pernyataan itu, dia juga mengutip undang-undang
"negara-bangsa", yang telah memicu kontroversi tahun lalu.
Undang-undang itu mengatakan bahwa orang Yahudi memiliki
hak untuk menentukan nasib sendiri di Israel dan menempatkan bahasa Ibrani di
atas bahasa Arab sebagai bahasa resmi. ***Candra Wibawanti



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !