![]() |
| Emrus Sihombing bersama Soegiharto Santoso selaku Ketua Panitia Kongres Pers Indonesia 2019, bertempat di Gedung Serba Guna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 06 Maret 2019. |
Jakarta, Info Breaking News - Akhir-akhir
ini muncul pandangan politik yang berbeda dari beberapa purnawirawan kita.
Bahkan terasa kurang elok didengar.
Sebenarnya,
para purnawirawan itu, mereka sudah menjadi sipil. Mereka mempunyai hak yang sama
dengan masyarakat sipil lainnya. Aturan dan hukum pun harus berlaku sama.
Karena
itu, mereka bisa berpolitik dan atau berada pada kekuatan politik dari sebuah
partai atau koalisi partai politik. Bahkan purnawirawan ada berada pada salah
satu kekuatan politik Paslon Pilpres 2019. Itu sah dan benar.
Hanya
saja dari aspek simbol komunikasi politik, ketika masuk atau berada pada
kekuatan politik tersebut, menurut saya, sebaiknya para purnawirawan
menanggalkan semua atribut, (misalnya jabatan, pangkat dan golongan), yang
terkait dengan profesi masa lalu, sebelum pensiun. Benar-benar jadi sipil
“murni”.
Sebab
sebagai warga nengara sipil, bagi mereka, berlaku aturan dan hukum sipil. Jadi,
tidak berlaku lagi aturan dan hukum ketika masih aktif di profesi sebelumnya
kepada mereka.
Dengan
demikian, semua tindaktanduk politiknya sebagai orang sipil, sudah tidak
terkait sama sekali dengan instansi dimana yang bersangkutan pernah aktif
sebelum pensiun. Hak-hak dan kewajiban sebagai bagian dari masyarakat sipil, dilindungi
oleh aturan dan hukum sipil.
Jadi,
sesama masyarakat sipil diberlakukan hukum sipil. Tidak ada perlakuan “spesial”
atas dasar latar belakang profesi, jabatan dan atau pangkat yang diemban
sebelumnya.
Karena
itu, aparat hukum sipil, harus memproses hukum siapapun di antara anggota
masyarakat sipil yang diduga melanggar hukum, tanpa kecuali, untuk menjaga
kepastian hukum di tengah masyarakat dan keteraturan berbangsa dan bernegara.
Sama
halnya dengan seorang PNS guru atau dokter, ketika sudah pensiun berhak masuk
ke dunia politik. Tentu terlebih dahulu menanggalkan semua atribut
ke-PNS-annya, sebagai masa lalu.
Sekalipun
dia pernah menduduki jabatan tertinggi sebagai eselon satu (Dirjen), misalnya,
ketika sudah pensiun, semua perilaku politiknya terlepas sama sekali dari
instansi sebelumnya. Mereka sudah mempunyai hak dipilih.
Memang,
boleh jadi masih ada relasi sosiologis, psykologis dan antropologis dengan
instansi lamanya, baik sebagai pensiunan dari militer atau PNS, harus terjaga
benar-benar independen, tidak boleh dicampuraduk atau dikaitkaitkan dengan
perilaku politiknya.
Misalnya,
jangan sampai mengemukakan pandangan politiknya seraya menyebutkan langsung
atau tidak langsung, statusnya di profesi sebelumnya, untuk meyampaikan makna
politik tertentu, yang boleh jadi untuk pembenaran lontaran komunikasi
politiknya atau untuk memanipulasi persepsi publik dalam rangka mewujudkan
tujuan politik prakmatis.
Karena
itu, apapun jabatan yang sebelumnya yang dipercayakan negara diembannya,
sebagai militer atau PNS, segala tugas dan pengorbanan selama sebelum pensiun,
harus dilihat sebagai kewajiban dan pengabdian yang sangat tulus bagi bangsa
dan negara. Keberhasilan dan prestasi, biarlah itu sebagai catatan emas dan
rujukan bagi para penerusnya di lembaga yang bersangkutan.
Semua
kita, apapun profesi kita, tanpa kecuali, misalnya nelayan yang bisa jadi
korban dari ganasnya ombak di laut dan atau buasnya ikan pemangsa yang bisa
mengancam keselamatan mereka, merupakan pengabdian dan pengorbanan yang luar
biasa bagi bangsa dan negara.
Profesi
guru di ujung perbatasan atau seorang perempuan dokter di desa terpencil di
Indonesia, di Kabupaten Boven Digoel di Papua, misalnya, tidak kalah mulia
serta pengabdiannya dengan seseorang yang berpangkat dan jabatan tinggi di
suatu instansi tertentu di Jakarta.
Karena
itu, apapun profesi kita, janganlah merasa pengabdian kita kepada negara dan
bangsa lebih superior dari orang lain. Kita sama-sama memiliki status tertentu
dan disertai peran tertentu pula untuk membangun negeri ini lebih baik dan
maju. Kita duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Kita bersaudara. Kita satu,
Indonesia Raya.
Penulis:
Emrus Sihombing, selaku Direktur Eksekutif dari Lembaga EmrusCorner.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !