Ditengah derita dari efek domino
kenaikan harga BBM, kini rakyat kecil kembali menjadi korban Pertamina. Pertamina yang gencar berkampanye melalui Program Pertamina Sobat
Bumi dengan menyalurkan
dana CSR melalui Pertamina Foundation melakukan gerakan penanaman
pohon. Setelah pohon tertanam ribuan bahkan jutaan pohon oleh petani kini
Pertamina ingkar dan zdalim kepada petani.
Jakarta, infobreakingnews - Tidak tanggung-tanggung
Pertamina menargetkan dapat penghargaan dari MURI dalam program Pertamina Sobat
Bumi dengan menabung 100 juta pohon. Dari aspek ekonomi, program ini
dimaksudkan untuk meningkatkan perekonomian relawan menabung pohon,
meningkatkan perekonomian petani penggarap, meningkatkan perekonomian pemilik
lahan dan meningkatkan perekonomian desa.
Niat baik ini tentunya
sangat disambut baik dan didukung oleh rakyat Indonesia yang sebagian besar
sebagai petani. Untuk
menjalankan program ini, Pertamina menggandeng Gerakan Nusantara Hijau (GNH)
sebagai LSM yang bergerak di bidang penanaman pohon di wilayah Cicalengka Kabupaten
Bandung.
“Kami pada prinsipnya berkewajiban menjalankan seluruh aktifitas
menabung pohon mulai dari perencanaan, persiapan lahan, penanaman,
pemeliharaan, produksi, pengembangan, pemanenan dan supervisi/pengawasan serta
melaksanakan bagi hasil, demikian ditegaskan Wawan Setiawan selaku Ketua
Umum Gerakan Nusantara Hijau (GNH).
GNH dengan Pertamina melalui Pertamina Foundation melakukan Perjanjian Kerjasama Penanaman 750 ribu pohon pada bulan Februari 2012. Disepakati dana yang diberikan Pertamina satu pohon
sebesar Rp. 8.500 dengan kompensasi Pertamina mendapat bagi hasil 5% dari harga
pohon pada saat panen. Namun, setelah penanaman dilakukan dan data faktual
disampaikan untuk menagih dana yang dijanjikan, pihak Pertamina ingkar dengan
mengiming-imingi untuk melanjutkan kontrak dengan melakukan penanaman yang
lebih besar sebanyak 8 juta pohon.
“Namun harganya per pohon tidak lagi Rp. 8.500
melainkan diturunkan menjadi Rp. 2.000 per pohon. Kami menerima ini semata-mata
karena faktor jumlah yang pohon lebih besar, sehingga banyak petani yang
merasakannya,” papar Wawan.
Sekedar perbandingan, untuk biaya per pohon berdasarkan
penelusuran wartawan dari pihak swasta yang membudidayakan jabon mencapai Rp.
65.000 per pohon. Sementara PT BUMN Hijau Lestari 1 biaya
per pohon mencapai Rp. 56.000, harga PT BUMN Hijau Lestari 2 relatif
lebih murah, sekitar Rp. 20.000 per pohon.
Sementara di
daerah Konawe Selatan Sulawesi Tenggara melalui perjanjian program
menabung 400.000 pohon antara Pertamina Foundation dengan Jaringan Untuk Hutan
(JAUH) dengan Nomor Kontrak : 013/PF-DIR/SP/XII/2012 tertanggal 28 Desember
2011 yang dibentuk melalui adopsi konsep ecopreneur
dari Cicalengka Bandung (cikal bakal berdirinya GNH) dihargai jauh lebih mahal
yaitu Rp. 17.500 per pohon.
Sangat berbeda jauh dengan harga yang diberikan ke GNH
yang hanya Rp.8.500 per pohon dan itu pun petani dikhianati, dengan alasan
untuk memperpanjang kontrak, lalu harganya diturunkan sampai Rp. 2.000 per
pohon. Hingga saat ini, petani belum mendapat hak sepenunya sebagaimana yang
dijanjikan.
Yang harus diusut, kenapa jumlah biaya program CSR ini
begitu timpang, padahal satu batang pohon pun turut diklaim sebagai kesuksesan
Pertamina dalam sumbangsih nya terhadap pelestarian lingkungan. “Berdasarkan
kontrak tersebut, aktifitas penanaman GNH sudah diklaim sebagai kesuksesan
program Pertamina Sobat Bumi 2012 sudah melakukan penanaman 25,4 juta di kawasan Kamojang
dan hulu sungai Cimanuk dan Citarum untuk dilaporkan ke Menteri
BUMN dalam program 1 Milyar pohon,” tegas Wawan.



Waaah koq bisa gitu ya!??
BalasHapusemang gitu, selalu ada oknum disetiap tujuan baik,...o...Indonesiaku
BalasHapusSAYA SUDAH SOSIALISASI, MELENGKAPI DATA ADMINISTRASI PESERTA "MENABUNG POHON", MELENGKAPI FOTOCOPI DATA LAHAN + KEBUTUHAN BIBIT (SENGON), DOKUMENTASI LAHAN DAN PETANI PESERTA, DOKUMENTASI KOORDINAT BATAS-BATAS LAHAN PESERTA DI 16 PEDUKUHAN PADA 1 DESA DI KABUPATEN GUNUNGKIDUL DIY TETAPI SETELAH ITU PETUGAS DARI PERTAMINA FOUNDATION / ASOSIASI HUTAN TANAMAN RAKYAT MANDIRI INDONESIA TINGGAL GELANGGANG. SAMPE SEKARANG TAK NAMPAK BATANG HIDUNGNYA.
BalasHapus